Showing posts with label my journey. Show all posts
Showing posts with label my journey. Show all posts

Sunday, 21 July 2019

Manusia Biasa


Aku hanyalah manusia biasa
Bisa merasakan sakit dan bahagia
Izinkan ku bicara
Agar kau juga dapat mengerti

Lagu terbaru milik Judika mengalun lembut. Lagu yang sangat romantis dan lagi ngehits saat ini. Aku juga menyukainya dan sering kuputar di play list. Dan penggalan lagu di atas seolah mewakili perasaanku sekarang. Bukan, bukan karena aku sedang jatuh cinta, bukan juga karena aku sedang patah hati, hanya aku sedang kecewa pada waktu yang kadang bercandanya sungguh terlalu.

Aku juga adalah manusia biasa yang bisa merasa sakit, terluka dan juga bahagia. Aku ingin bicara tapi tak tahu pada siapa perihal masalah yang bertubi belakangan ini. Hanya isi di kepalaku yang tak berhenti mendebat dan kadang bikin frustasi.

Di saat aku coba mencari ketenangan eehh setelahnya masalah baru muncul lagi. Baru saja aku merasa sedikit bahagia karena melihat senja yang cantik, setelah pulang kenyataan mempertemukanku dengan amarah yang tak mau percaya pada kata.

Sebenarnya, aku juga bingung apa yang membuat aku berpikir terlalu keras seperti ini? Malah aku hanya menyiksa diri sendiri. Beratku semakin menyusut, pipiku semakin tirus, dan hatiku tak pernah tenang.  Aku tahu setiap orang memiliki masalahnya sendiri, hanya berbeda kadar dan beratnya. Aku tak perlu seolah menjadi manusia yang paling kasihan di muka bumi ini. Aku malah jauh lebih beruntung. Masih bisa bernapas dengan baik, pendengaran yang sempat terganggu dua minggu lalu juga sudah pulih, cuma sedikit nyeri di gusi yang sedang membengkak karena gigi bungsu yang baru mau tumbuh. Selebihnya aku tak kurang suatu apa. Kenapa aku tidak bersyukur dan hanya sibuk merutuki nasib yang sebenarnya baik-baik saja?

Akupun maunya begitu. Aku juga ingin bersikap masa bodo, cuek dan tak peduli pada apapun tapi aku bukan tipe orang yang seperti itu. Aaah dan aku malah bercerita tentang semuanya di sini. Padahal sebenarnya aku ingin menulis sesuatu yang menyenangkan saja. Tapi, kalau hanya hal-hal menyenangkan saja yang aku tulis, apa gunanya menulis? Sedang di saat begini, untuk bicara aku tak mampu dan menulislah caraku untuk setidaknya melepas sedikit beban.

Berbicara menulis, kadang aku merasa mungkin orang menganggapku alay karena terlalu sok puitis dan melankolis. Apalagi kalau meng-upload foto di media sosial yang kuberi caption sajak-sajak kecil. Tapi itu tak masalah, karena dengan begitu aku menjadi beda dengan orang kebanyakan. Beda itu bukan aib justru menjadi beda adalah sesuatu yang baik. Apalagi menulis yang tak semua orang bisa merangkai kata dengan baik. Bahkan akupun tidak semahir itu. Aku hanya mencoba untuk tetap ada tulisan yang aku buat. Meski hanya coretan-coretan kecil tentang apa yang kurasa dan tidak sebagus tulisan mereka yang memang adalah seorang penulis.

Kalau kata pak Aswan dosenku di kampus, “Menulis adalah merayakan hidup.” Lain lagi kata Rintik Sedu, baginya menulis itu menyembuhkan. Yah dengan menulis kita merayakan hari ini, entah itu baik atau buruk dengan menulis kita jadi menghargai hidup kita. Menulis itu memang menyembuhkan, karena sesak yang menghimpit di dada dan memenuhi rongga kepala itu butuh pelampiasan, butuh ruang untuk di keluarkan. Jika pada manusia tak memungkinkan, maka menulislah solusinya. Karena hanya dengan menulis kita bisa bercerita dengan bebas, tanpa takut tak didengarkan, tanpa takut dicemooh, tanpa perlu merasa kecewa bila diacuhkan.

Sebenarnya ada banyak hal yang ingin kuceritakan, tapi mungkin lain waktu saja. Dan untuk tulisan berikutnya, aku janji aku akan menulis tentang sesuatu yang menyenangkan.



~WS

Monday, 8 July 2019

Gara-gara Banana

Hujan kecil-kecil di luar. Aku terkantuk di depan komputer. Suara gerimis kecil samar kudengar. Pendengaranku terganggu. Hadiah dari pantai kemarin. Insiden kecil yang meninggalkan trauma.

Tak ada waktu buat mengeluh, bukan juga saatnya mencari kambing hitam. Karena apa yang terjadi memang sudah seperti seharusnya. Mungkin pantai hanya ingin memberi kenangan yang tak terlupa dan memberitahuku sesuatu. Aku tahu, ada yang tak semestinya berkembang, ada yang perlu dipadamkan, dan kemudiam dilupakan.

Kemarin cuaca sunggu cerah.
warna senja memikat membuat segala yang diterpa berwarna oranye, menemani perjalanan pulang. Tapi pantai bagiku benar-benar kelabu dan perjalanan sore itu sudah tidak menyenangkan lagi. Aku ingin segera sampai di rumah, istirahat lalu bangun di pagi hari seperti biasa. Berharap yang terjadi hanya sebatas mimpi. 

kini gelap sudah kembali bercumbu dengan dingin. Aku menggigil dan telingaku masih berdenging.
Doakan besok aku lekas sembuh....


~WS

Friday, 21 June 2019

Mungkin

Kumulai pagi ini dengan  semangat, senyumku terkembang kala beranjak dari rumah dan menemui pagi yang berkabut embun. Dingin. Tapi aku suka suasananya. Sepanjang jalan aku berkendara dengan santai. Nyaris sepanjang jalan aku menyetir hanya dengan satu tangan. Karena tangan yang lain sibuk memeluk diri sendiri.

Sementara menikmati embun yang begitu lembut terasa menerpa wajahku, fikiranku dipenuhi berbagai macam hal yang belakangan ini mengusik dan membuatku lelah. Bahkan terkadang menyesakkan dada.

Aku dipusingkan tentang banyak hal, tentang pertanyaan-pertanyaan yang masih tak menemui jawaban, tentang asa, dan juga bimbang yang tak usai.

Hari yang semestinya ceria ini, sama sekali tak kurasakan sepanjang hari. Dimulai ketika senam pagi di mana aku kesulitan mengikuti gerakannya dan akhirnya hanya berdiri kebingungan di lapangan. Keringatku bahkan tak ada yang mengucur biar setetespun. Lalu makan siang yang tidak bisa kuhabiskan, dan entah bagaimana aku sudah kembali ke rumah dengan tumpukan cucian piring yang menanti di dapur.

Bukan gerakan senamnya yang sulit, bukan makanannya yang tak enak, dan bukan cucian piring menumpuk yang kukeluhkan. Memang aku saja yang tak bergairah padahal sudah kusiapkan hati untuk berbahagia.

Lalu apa?

Mungkin aku rindu.

Rindu...
pada saat-saat itu.
Bukannya saat itu adalah saat -saat yang paling membahagiakan?

Saat tak ada harap yang kau ingin, saat tak ada rasa yang kau kecap, saat tak ada siapa yang ingin kau kenal, saat tak ada tentang yang kau tanya, saat tak ada kenangan yang ingin kau miliki, ketika tak ada sesal yang selalu kau ingkari, saat tak ada dan tanpa siapa-siapa. Tapi kau bisa tertawa lepas dengan hati yang lapang.

Terkadang ruang yang kosong memang sebaiknya tak terisi. Sebab hadir yang tiba-tiba, bukan untuk memenuhi. hanya membuat sesak dan jejak yang paling menyakitkan adalah menambah luka.

Harusnya memang tak pernah ada celah untuk membiarkannya tumbuh hingga berkecambah sebab rindu sudah biasa dengan jarak. Tapi aku harus sebelum ia bertunas dan menjadi duri yang munusuk diri sendiri.


~WS

Saturday, 30 March 2019

ALL ABOUT ORIENTASI CPNSD PEMERINTAH KOTA KENDARI 2018


Sebuah catatan untuk kenangan singkat yang sangat berkesan

            “Kita boleh membenci sesuatu, tapi jangan terkejut bila nanti Tuhan menjadikannya sebagai salah satu hal yang mengubah hidupmu…” – Budi Waluyo
           
Cukup lama, saya membiarkan segala ide dan keinginan untuk menulis, mengendap, ditelan ketermalasan. Aaah saya masih saja tak berubah yah… tapi, kali ini saya ingin bercerita panjang. Tentang awal dari sebuah perjalanan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Tentang menjadi apa yang tidak pernah saya inginkan. Namun, ketika berada di titik ini luar biasa sekali rasanya.
           
Dulu, difikaran saya menjadi Pegawai Negeri sipil (PNS) itu apa bagusnya sih? Berseragam, penuh aturan, dll. PNS sama sekali tidak pernah masuk dalam list cita-cita saya. Meski sebenarnya saya tidak pernah yakin betul ingin menjadi apa saya kelak. Bahkan saya pernah berada di titik jenuh, titik di mana saya merasa gagal, resah, dan tak bisa menjadi apa-apa. Di saat teman-teman saya sudah melangkah jauh dengan impian mereka saya hanya bisa menjadi penonton. Ditambah lagi dengan kegagalan yang berulang membuat semangat saya tumbang. Saya lelah mencoba tapi saya menolak menyerah. Saya menyadari betul banyak sekali kekurangan dalam diri saya, tapi sangat tidak tahu diri untuk bercita-cita terlalu tinggi. Tapi tak ada yang tak mungkin jika sudah Allah SWT. yang berkehendak.
            
Awalnya mengikuti seleksi CPNS 2018 ini, saya tidak terlalu berharap bisa lulus seleksi apalagi melihat banyaknya pendaftar rasanya kesempatan itu cuma 0,0001 %. Tapi, di dalam lubuk hati saya, selalu berbisik “waah kalau lulus kayaknya keren juga yah” dan kadang-kadang terbersit dalam lamunan saya, yang melihat diri saya menjadi seorang PNS tapi selalu saya tepis bayangan itu agar tak terlalu kecewa jika tak sesuai realita.
            
Saya menyelesaikan pendaftaran online dan mengirimkan berkas pada hari terakhir, saking tidak antusiasnya dengan seleksi CPNS ini. Bahkan mendekati waktu tespun saya masih ogah-ogahan mempelajari soal-soal TKD (Tes Kompetensi Dasar) yang banyak bertebaran. Lalu harapan yang tak seberapa itu pun kian terkikis ketika nilai saya tidak mencapai passinggrade. Nyatanya kesempatan itu kembali datang saat saya dinyatakan berhak mengikuti Tes Kompetensi Bidang (TKB) karena menduduki peringkat ke dua di tes sebelumnya. Asa itu mulai muncul, apalagi melihat orang tua yang begitu gembira dengan kabar tersebut. Berkat doa dan dukungan mereka pula saya melalui tes TKB dengan sangat baik dan bisa menjadi salah satu dari 167 orang yang dinyatakan lulus menjadi CPNSD Kota Kendari.
            
Kemarin, orientasi baru saja usai. Setelah melalui proses yang saaangat panjang. Dimulai sejak dinyatakan lulus, lalu pemberkasan, dan penantian pertek NIP yang membuat detak jantung berdetak tidak normal setiap harinya.

Semua proses ini tidak dilalui dengan sendiri. Dari proses inilah saya berkenalan dan bertemu dengan teman-teman dan orang-orang baru. Karena bersama membuat semua yang kita lalui menjadi mudah. Ditambah dengan adanya grup WA (Whatsapp) membuat keakraban di antara kami semakin erat terjalin meski baru saling mengenal kemarin. Walau ada banyak drama juga yang tercipta dan apa saja bisa menjadi perdebatan. Seperti luas mana kelurahan atau kecamatan misalnya, menjadi perdebatan yang tak ada ujungnya saat pengisian DRH (Daftar Riwayat Hidup) tempo hari. Atau simpang siurnya info mengenai 9 jeti (baca juta) menjadi drama yang tak kalah serunya dari sinetron yang menjadi viral beberapa hari sebelum orientasi dimulai. Grup-grup WA juga menjadi salah satu mood boster saya karena percakapannya yang sangat menghibur meski kadang membuat HP eror karena ratusan chat yang masuk.

Berasal dari latar belakang, disiplin ilmu, asal daerah, usia, dan karakter yang berbeda membuat diskusi selalu seru. Di sini saya belajar untuk menerima perbedaan dan tidak memaksakan pendapat. Sebab kita semua punya tujuan yang sama yaitu mengabdi pada bangsa dan Negara terkhusus untuk daerah kota Kendari. Keterbukaan teman-teman dan kakak-kakak membuat saya tidak canggung berinteraksi dengan mereka. Bahkan menbuat saya sangat jauh keluar dari diri saya biasanya yang pemalu, tertutup dan tidak mudah bergaul dengan orang baru.

Selain itu pembentukan kelompok juga sangat berperan penting dalam melewati proses ini. Kelompokku ada dua yang pertama kelompok 7, kelompok yang dibentuk saat awal pemberkasan dan yang kedua kelompok 5 kelompok yang dibentuk saat mengikuti orientasi. Untuk kelompok 7, sejak awal terbentuk kita sudah kompak, selalu menyempatkan foto dan makan bersama beberapa kali. Bahkan setelah dipencar ke dalam kelompok-kelompok baru pun tidak membuat kami melupa. Mungkin ini berkat ketua kelompok juga yang yang terbaik mengakomodir anggotanya. Di kelompok lima, kami terdiri dari berbagai formasi. Ada ibu-ibu dari pelamar X tenaga honorer K2 yang suka heboh dan doyan foto, ada dokter, guru, dll. Yang pasti kelompok kitalah yang paling kalem.
            
Orientasi dimulai pada hari senin, 25 Maret 2019.  Kami berseragam hitam putih, lengkap dengan papan nama dan pin korpri. Dalam orientasi ini kami mengikuti banyak kegiatan ada pemberian materi di ruangan yakni pengenalan tentang aturan-aturan yang berlaku bagi PNS, bagaimana kita harus bersikap, seperti apa pengawasan yang melekat, ataupun tentang pengembangan diri dimana menjadi PNS bukan berarti membatasi gerak kita untuk berkembang.
            
Ada juga kegiatan di luar ruangan yakni latihan PBB (Peraturan Baris Berbaris) yang mengingatkan saya pada saat SMP dulu pernah mengikuti gerak jalan, tapi masih juga salah-salah saat pelatihan kemarin. Pada hari kamis atau hari keempat pelaksaan orientasi ada giat penanaman pohon di jalan Madusila, yang tak sesuai realita karena kelompok kami tidak mendapatkan pohon, akhirnya cuma memasang pagar pelindung. Usai penanaman pohon, kami makan-makan bersama di pinggir lapangan dan juga outbond di taman kota, yang mana kelompok kami kalah semangat dan kompak dengan kelompok lain karena terlalu kalem.
            
Yang paling mendebarkan adalah ketika saya ditunjuk dan ditugaskan untuk menjadi perwakilan kelompok sebagai penerima SK 80% dan akan berhadapan langsung dengan pak Walikota. Apalagi saat latihan dan gladi saya masih saja salah dan gagal fokus. Di sisi lain ingin memberikan penampilan terbaik, karena ini adalah pengalaman yang mungkin hanya akan ada sekali seumur hidup.
            
Hari pentupan orientasi tiba, saya terbangun pukul tiga pagi dan tak bisa terlelap lagi. Berbagai prasangka meresahkan fikiranku. Cemas, takut salah, tegang, gugup, campur aduk menjadi satu. Saat hari masih berkabut, matahari belum muncul sempurna saya sudah menunggangi beblue (motor butut kesayangan) membelah jalanan kota lulo yang sudah mulai ramai dengan anak sekolah yang berbondong-bondong menuju sekolah. Jadi ingat, dulu waktu sekolah saya selalu berangkat pagi sekali dan kadang jadi orang pertama yang tiba di sekolah meski rumah saya paling jauh. Tak terasa saya sampai di pelataran parkir kantor Walikota Kendari. Sudah ada beberapa teman yang tiba. Semakin tinggi matahari bersinar sayapun semakin deg-degan.

Usai mengikuti apel pagi kami foto-foto bersama teman sekelompok lalu memasuki aula dan bersiap untuk acara penutupan orientasi. Semakin gugup dan rasanya ingin cepat-cepat selesai saja acara ini. Apalagi ketika kami sudah berada di depan dan saat gladi terakhir saya masih melakukan kesalahan.

Acara penutupan orientasi pun dimulai, setelah sambutan panitia dan Walikota, tibalah saatnya penanggalan tanda peserta orientasi dan penerimaan SK. Saya berusaha fokus meski kelihatan sekali tegangnya di wajah saya. Bukan hanya saya, tapi kami berlima yang menjadi perwakilan kelompok merasakan ketegangan yang sama. Sulit sekali harus melukiskan perasaanku saat berhadapan langsung dengan pak Walikota dan menerima SK dari beliau. Tegang campur haru, bahagia, bangga, pengen nangis tapi juga pengen teriak kencang dan lompat-lompat kegirangan. Tapi, keadaannya tidak memungkinkan dan masih harus tetap fokus. Setelah foto bersama kami pun kembali ke tempat duduk, barulah saya bisa bernafas lega.  
Sungguh menjadi PNS saja, sama sekali tak pernah terbayangkan olehku. Berada di antara 167 orang ini saja sudah sangat membanggakan dan membahagiakan bagi saya, apalagi menjadi perwakilan kelompok yang sebenarnya teman-teman lain jauh lebih baik dari pada saya yang tak ada apa-apanya ini.

Masa orientasi yang sangat berkesan dan menyenangkan. Teman-teman baik yang tidak sombong dan sangat ramah, panitia yang bekerja dengan sangat baik melayani kami dari awal dan sangat fleksibel sama sekali tidak menyusahkan kami. Semuanya memberikan kenangan yang tak  akan terlupakan.

Terimakasih untuk kesempatan luar biasa ini. Terimakasih Allah nikmat-Mu sungguh tiada terkira. Terimakasih mama, bapak, kakak, saudara, sahabat, teman, dan semuanya yang selalu mendukung dan memberikan saya kekuatan untuk tidak pantang menyerah. Terimakasih Panitia dan teman-teman CPNSD Kota Kendari 2018, semoga persaudaraan kita tetap terjalin dan buat semuanya sukses selalu di tempat pengabdian masing-masing.

Dan pada akhirnya, sebuah pertemuan akan menyisahkan perpisahan. Tapi, kita bisa memilih melupakan atau menyambung silaturahmi. Kalau aku pasti memilih yang kedua. Masa orientasi ini pasti akan kita rindukan. Tapi, jangan rindu kawan sebab kita tak kemana-mana. Kita di sini dalam naungan Pemerintah Kota Kendari.

Sekian….

-Wulan

30-31 Maret 2019 00:45

Sunday, 11 November 2018

Tentang November


Di bulan yang sama, tiga tahun lalu, tepatnya November 2015 aku pernah berada dalam titik terendah kehidupanku. Dihadapkan pada persoalan yang begitu pelik sampai rasanya tak mampu menghadapi dunia ketika membuka mata di pagi hari.

Masa-masa itu adalah saat terberat yang pernah aku jalani. Di tengah akhir semester, masa-masa ujian dengan tugas yang menumpuk yang menguras otak dan tenaga untuk menyelesaikannya. Aku bertemu kenyataan di mana aku dipaksa harus memilih antara seseorang yang selama ini kuperjuangkan dengan orang-orang yang selama ini berjuang untuk kehidupanku. Lalu kisah yang telah dirajut dengan asa untuk bersama itu pun kandas tanpa kata tanpa penyelesaian. Karena dia yang juga tak peduli. Sampai saat ini pun aku masih bingung dengan kata dan kalimat apa aku bisa mendeskripsikan saat-saat itu.

Bukan hal yang mudah untuk melewati tiga tahun ini, dan ternyata aku mampu melewati segalanya dengan baik. Meski sempat terpuruk, tak ada gairah menjalani hidup, sampai tak mampu untuk bercerita kepada siapapun. Semua luka, sakit hati, kesedihan, penyesalan dan air mata aku pendam sendiri. Bahkan di tengah keramaian dan saat tertawapun, aku sebenarnya menangis.

Kemudian aku belajar untuk menjadi kuat, berdiri di atas luka dan berusaha untuk membuktikan bahwa aku mampu melewati fase itu dan menjadi pribadi yang lebih baik. Karena keyakinanku, Allah tak akan memberikan ujian di luar batas kemampuanku. Awalnya memang berat, sangat, tapi tak ada yang tak mungkin jika kita terus berusaha untuk melupakan dan menerima dengan ikhlas apa yang telah digariskan-Nya.

Kini aku telah berdamai dengan masa lalu. Seiring waktu, aku belajar banyak hal yang mengkin menjadi pemicu mengapa ujian yang berat itu datang sebab kesalahanku sendiri. Yang pasti, aku tak ingin mengulang kesalahan yang sama. Karena itu, untuk saat ini aku lebih memilih sendiri. Kesendirian ini membuatku menjadi lebih mandiri tanpa tergantung dengan orang lain, tanpa mengharapkan apapun dari orang lain.

Meski sepi kadang menyelimuti rasa. Walau iri kadang terselip di hati melihat mereka yang telah berdua. Tapi aku tak ingin terlarut. Hidup bukan hanya tentang persoalan rasa dan hubungan antara pria dan wanita. Hidup jauh lebih berarti dari sekadar urusan cinta. Meraih impian dan menjadi orang yang berguna buat orang lain jauh lebih utama untuk dikejar.

Bukan tak ingin untuk jatuh cinta lagi, hanya saja, kau tahu, orang yang hatinya pernah patah tak akan mudah untuk kembali membuka hati. Karena untuk sampai di titik ini saja butuh perjuangan yang luar biasa. 


-WS

Saturday, 20 October 2018

Hari Pertama


“Waktunya tidur, istirahat. Besok, kita akan memulai petualangan baru. Bismillah….”

Itulah kata-kata yang saya tulis di memo HP sebelum terlelap malam itu. Keesokan paginya saat hari masih gelap, alrm yang sudah  saya atur untuk berbunyi tiap 5 menit (kalau tidak begini dijamin gak akan bisa bangun pagi wkwkwk) berdering-dering membangunkan saya yang masih mager (malas gerak). Tapi, mengingat hari ini adalah hari pertama saya mulai bekerja, sayapun segera bangun, melaksanakan shalat subuh dan lalu bersiap-siap ke kantor.

Saat pagi menyapa, mendung menyelimuti langit. Hari tampak muram, tapi tidak dengan diriku yang pagi itu mempunyai semangat baru untuk memulai hari-hari baru, memulai kehidupan dalam dunia kerja. Dengan menunggangi si beblue (baby blue julukan untuk motor butut kesayanganku yang terinspirasi dari webtoon spirit fingers) saya menuju ke kantor yang mulai hari ini akan menjadi rumah kedua untukku. Karena di tempat inilah setengah hariku akan saya lewati. Aahh… orang-orang seperti apakah yang akan saya temui nanti? Pertanyaan itu mengusik fikiranku sepanjang jalan.

Pukul 07. 30 WITA saya sudah tiba. Saya memarkirkan si beblue lalu melangkah memasuki gedung kantor yang berlantai tiga itu. Masih sepi. Cuma ada security dan cleaning service yang tengah membersihkan ruangan front office, entah kalau di bagian dalam kantor. Saya duduk di kursi tunggu dengan perasaan campur aduk. Gugup, canggung, merasa asing sekaligus antusias.

Selang beberapa saat, datanglah ibu Fatma sosok yang ramah dan murah senyum, itulah kesan pertama yang saya tangkap saat pertama kali bertemu dengannya ketika interview kemarin, kelak saya tahu beliau tipe yang sangat kocak, lucu dan humoris. Sayapun diajak ke ruangan yang akan menjadi tempatku bekerja bersama dengan beberapa karyawan lain.

Lalu satu persatu karyawan lain datang dan saya diperkenalkan dengan mereka. Berbagai tanggapan mewarnai kehadiranku di kantor hari itu, menjadi bahan candaan dengan pertanyaan-pertanyaan konyol yang saya tahu hanya untuk lebih mengenalku saja, karena mungkin saya tampak sangat pendiam. Perasaan canggung benar-benar menguasai diriku. Saya hanya sesekali tersenyum dan bicara saat ditanya.

Saya memang bukan tipe orang yang friendly dan mudah berbaur dengan orang yang baru saya temui. Tapi, saya akan pelan-pelan menyesuaikan diri setelah saya cukup mengenal karakter orang-orang di lingkungan baru saya tersebut.

Di luar, hujan gerimis membasahi kota siang hari itu. Saya mulai diajari hal-hal yang harus saya kerjakan. Tak banyak dan cuma hal-hal yang sederhana. Hari itupun berlalu dengan canggung yang masih tersisa hingga beberapa hari berikutnya.

Hari itu, sudah lewat beberapa pekan lalu. Kini saya sudah bisa beradaptasi dengan baik di lingkungan kerjaku. Pun tanpa masalah berarti dan semoga sampai seterusnya begitu, karena kehidupan tak akan mungkin terus berjalan dengan mulus. Hari-hari esok masih penuh dengan tanda tanya. Tapi mengambil banyak pelajaran dan menjadikannya sebagai pengalaman berharga adalah sesuatu yang pasti. Saya memilih untuk menikmatinya dan memberikan yang terbaik dalam hal apapun yang saya kerjakan.




~WS

10-20 Oktober 2018

Tuesday, 2 October 2018

Kabar Baiknyaa…


Sudah dari beberapa hari yang lalu saya berniat untuk mulai menulis lagi di blog ini, tapi selalu tidak bisa menyempatkan diri. Yaah saya sangat tidak konsisten, karena beberapa bulan belakangan saya kehilangan motivasi dan bahan untuk mengisi blog ini. Tapi, saya akan usahakan untuk rutin menulis lagi. Karena tanpa menulis rasanya seperti ada yang hilang dari keseharian saya.

Kali ini saya ingin memberi kabar baik. Setelah belasan hingga puluhan lamaran yang saya kirimkan ke berbagai perusahaan dan kantor yang ada di kota ini, dengan rekomendasi seorang teman yang sangat baik akhirnya saya pun bisa mulai mengenal dunia kerja.

Sudah putus asa, sempat ingin berhenti berusaha, harapan mungkin tinggal seujung kuku. Bahkan saya sudah menyusun rencana-rencana lain setelah menemui kegagalan berkali-kali. Tapi dalam hati kecil selalu ada doa dan harapan yang tidak pernah putus meski tak saya ucapkan lewat lisan, untuk mendapatkan pekerjaan yang meskipun tidak menjadi “apa-apa” dengan gaji yang meski tidak seberapa. Setidaknya cukup sebagai tempat untuk saya mendapat pengalaman dan pelajaran berharga dalam dunia kerja.

Allah ternyata menjawab doa yang saya panjatkan dalam diam itu. Harapan sederhana yang tidak menggebu-gebu. Keinginan yang saya pendam sendiri. Meski bukan itu hal yang selalu saya usahakan tapi saya selalu merasa membutuhkannya. Dan Allah benar-benar memberikan apa yang saya butuhkan saat ini.

Kita mungkin punya keinginan yang sangat banyak, tapi hati kecil kita sebenarnya tahu apa yang paling kita butuhkan. Dan Allah hanya memberikan apa yang terbaik yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Semoga pekerjaan ini menjadi langkah awal pembuka rezeki dari impian dan rencana-rencana yang ingin saya usahakan untuk dapat terwujud. Bismillah…. Perjalanan kita masih sangat panjang ini barulah awal.

#wstory


Tuesday, 22 May 2018

Seseorang Yang Kutemui

Hari ini saya bertemu seseorang. Awalnya, saya tidak sengaja bersitatap dengan orang itu saat dia sedang lewat di hadapanku yang sedang galau karena dagangan yang tak kunjung berkurang. Dalam hati saya merasa pernah melihatnya entah di mana.

Di waktu yang sepersekian detik itu saya sedikit terpana tapi kemudian saya cepat-cepat mengalihkan pandangan saya ke arah lain. Karena sepertinya dia pun juga sedang memperhatikan saya lekat-lekat. (Tidak bermaksud ke GR-an yah tapi faktanya memang begitu).

Setelah dia berlalu, saya pun tidak terlalu memikirkannya. Meski sempat terbersit dalam benak saya kalau orang itu terasa familiar.

Tapi kemudian, dia kembali menghampiri saya. Lalu menanyakan tentang diri saya. Katanya dia adalah temannya temanku. Kami berbincang sejenak kupikir cuma sekadar basa basi biasa. Setelah itu dia berlalu dan sayapun hanya menganggap hal itu seperti angin lewat belaka.

Hingga di saat saya hendak tidur saya kepikiran mengenai kejadian itu. Rasa penasaran saya muncul. Mengapa orang ini bisa mengenali saya? Saya pun membuka akun facebook dan mencari nama akun teman yang dimaksud orang itu tadi. Setelah menelusuri  akun teman saya, saya pun menemukan akun orang itu yang ternyata juga berteman dengan saya di facebook.

Pantas saja saya berasa familiar. Orang saya sering ngeliat orang ini di facebook. Cuma yang saya tidak sangka dia mau meyapa saya lebih dulu. 

Bukan hal yang waao banget sih, hanya saja saya tidak pernah berpikir akan bertemu secara langsung dengan orang itu ditambah momentnya yang akward banget lagi. Hahaha

Kita tidak pernah tahu besok atau lusa akan bertemu dengan siapa dan di mana. Tapi pasti ada suatu cerita yang tertinggal dalam memori meskipun itu hanya hal yang biasa. Bagiku, bukan hanya sesuatu yang spesial saja yang mesti diingat. Hal yang biasapun perlu diingat jika hal itu memang membekas dalam ingatan.

Friday, 4 May 2018

Mimpi


Semalam, saat saya sedang asyik bermain instagram, saya menemukan sebuah akun yang sangat inspiratif. Di akun itu, sang empunya banyak bercerita mengenai kisah perjalanan hidupnya bersama istrinya, yang sangat inspiratif saat menuntut ilmu di negeri Ratu Elizabet II.

Membaca kisah yang sangat inspiratif dari sepasang suami istri tersebut membuat dada saya bergelora. Membangkitkan kembali mimpi-mimpi saya untuk melanjutkan pendidikan, entah itu di dalam negeri ataupun di luar negeri. saya sangat tertarik dengan kata-katanya yaitu kisah perjalanan hidupnya itu berawal dari mimpi. Kita tidak boleh takut bermimpi, tapi mimpi yang tidak diusahakan hanya akan menjadi angan-angan semata. Kira-kira seperti itu. Tentang kisah orang yang saya maksud, mungkin akan saya ceritakan lebih lanjut di lain waku setelah saya membaca bukunya.

Saya sangat ingin mengusahakan untuk mewujudkan mimpi-mimpiku. Namun, saya masih banyak memiliki kekurangan dan banyak hal yang harus saya persiapkan jika ingin mewujudkannya. Terkadang, saya ingin menyerah saja tapi saya masih ingin berbaik sangka kepada Allah SWT. dan saya masih ingin mengusahakan apa yang saya cita-citakan.

Apalagi, setelah membaca kisah-kisah orang yang sukses dan bisa menggapai impiannya meski beragam rintangan yang harus dilalui. Kalau mereka bisa kenapa saya tidak. Saya hanya harus bersabar, tidak menyerah dan terus berusaha. Karena mereka yang hari ini sukses, juga pernah merasakan kegagalan.  

Tuesday, 17 April 2018

Buku Bersampul Ungu


Pada saat mengikuti pendidikan karakter, di awal masuk kuliah dulu. Saya banyak mendapatkan motivasi dalam menjalani aktivitas sebagai mahasiswa. Salah satunya, waktu itu kami diajarkan membuat perencanaan ataupun cita-cita yang ingin kami capai ke depannya dan menuliskannya.

Menulis impian, cita-cita, atau apapun yang kita inginkan di kertas, di buku atau di mana pun ini juga saya dapatkan dari video motivasi yang pernah saya tonton. Di mana dalam video itu ada seseorang yang menuliskan keinginan dan cita-citanya di selembar kertas. Yang beberapa tahun kemudian, hampir semua keinginan yang ditulisnya dalam lembaran tersebut menjadi kenyataan.

Hal ini pun saya lakukan walau tidak detail dan hanya berupa poin-poin. Karena saya kadang bingung sendiri saat harus menyusun hal-hal seperti ini. Kadang juga, meskipun saya telah menuliskan akan melakukan suatu kegiatan di hari tertentu, tapi pada akhirnya tidak jadi saya lakukan karena satu dan lain hal. Kebanyakan sih karena malas hehe.

Tapi, tanpa saya sadari ada beberapa keinginan yang pernah saya tulis dan Alhamdulillah menjadi kenyataan. Saya baru menyadarinya beberapa jam yang lalu.

Ceritanya, saya ingin menuliskan beberapa hal penting di buku. Saya pun mengambil buku bersampul ungu di meja belajar saya. Dalam buku itu terdapat beberapa catan-catatan saya semasa kuliah. Saya melihat masih banyak lembaran kosong di buku itu. Tanpa sengaja saya membuka lembaran bagian tengah dari buku yang hampir dua tahun ini tidak pernah saya sentuh.

Saya menemukan tulisan berupa point-point keinginan yang saya tulis yang di atasnya saya beri judul My Dream. Kemudian saya membaca point demi point yang tertulis di halaman itu. Lalu saya membuka lembaran-lembaran selanjutnya yang berisi planning  saya di tahun 2016. Saya pun baru mengingat bahwa dulu saya berniat menuliskan hal-hal yang harus saya lakukan di tahun itu perbulannya. Tapi, hanya ada bulan-bulan tertentu yang terisi.

Saya tertegun, kemudian membaca ulang semuanya dan waoo beberapa hal yang pernah saya tulis memang terwujud. Bahkan ada keinginan yang saya tulis benar-benar terwujud seperti pada waktu yang saya harapkan.

Apakah ini bisa disebut sebuah keajaiban? Mungkin iya. Karena Allah maha mendengar dan maha mengetahui keinginan hambanya. Tak ada yang tak mungkin jika Allah sudah berkehendak. Selama kita pun mau berusaha.

Dari beberapa hal yang saya tulis, memang masih banyak yang belum terwujud. Tapi itu juga karena saya yang kurang mengusahakan agar dapat mencapai hal tersebut. Begitupun dengan keinginan saya yang menjadi nyata, karena saya benar-benar berusaha sekuat tenaga dalam meraihnya.

Yah memang benar Allah tidak akan mengubah nasib kita kalau kita sendiri tidak mengubahnya. Tidak mungkin keinginan kita bisa terkabul, sedang kita hanya berdiam diri dan mengharap pada keajaiban alam.

Begitupun ketika saya ingin belajar mengendarai motor. Padahal dulu rasanya saya sangat mustahil akan bisa. Karena bersepeda pun saya tak tahu. Tapi, dengan usaha yang saya lakukan dengan pantang menyerah. Meski harus jatuh bangun sampai berdarah-darah. Pada akhirnya saya bisa.

Sebenarnya, segala sesuatunya itu bukan karena kita tidak bisa atau tidak mampu. Tapi bagaimana usaha dan kerja keras kita untuk membalik suatu kemustahilan menjadi sebaliknya. Menolak menyerah dan terus berusaha serta berdoa. Lalu selebihnya, berserah diri kepada Allah yang akan menentukan hasil atas apa yang sudah kita usahakan semaksimal mungkin.

Tuesday, 10 April 2018

Berbeda Tapi Sama


Saya baru saja pulang dari rumah Iin, sahabatku. Rumahnya hanya berjarak sepelemparan batu dengan rumahku. Meskipun tetanggaan kami sangat jarang bertemu. Tapi sekalinya bertemu pasti jadi lupa waktu.

Tadinya saya ke rumahnya hanya untuk memprint.Tapi karena printer-ya sedang kehabisan tinta urusan memprint jadi berganti dengan perbincangan panjang yang kesimpulannya kembali pada selera. Nah loh?

Dari sekian hal yang membuat saya bisa bersahabat dengan Iin salah satunya karena kami memiliki banyak kesamaan dalam beberapa hal. Mungkin itulah sebabnya kami merasa nyaman satu sama lain. Tapi bukan berarti kami tak memiliki perbedaan. Justru, perbedaan kami mungkin lebih banyak daripada kesamaan yang kami miliki.

Salah satunya mengenai selera. Selera masing-masing orang itu berbeda. Kita tidak mungkin memaksakan apa yang kita sukai  harus disukai oleh orang lain. Tak perlu juga memandang aneh terhadap orang yang memiliki selera berbeda dengan kita.

Kalau dalam hal makanan, mungkin saya dan Iin memiliki selera yang sama. Kami sama-sama penyuka kecap. Makanan apapun, tanpa kecap rasanya tak akan nikmat. Kami juga sama-sama penyuka makanan pedas. Tapi perbedaan kami terletak pada level kepedasan suatu makanan. Semakin pedas suatu makanan, semakin dia suka. Berbeda dengan saya yang hanya suka makanan pedas sebatas ada rasa pedasnya saja.

Kembali pada pertemuan saya dan Iin tadi. Awalnya, kami berbincang hanya seputar masalah pribadi. Dia dengan segala kendalanya dalam menyelesaikan tugas akhir yang tak kunjung kelar, sedang saya yang masih berkutat dalam usaha mencari pekerjaan yang tak juga menemukan titik temu.

Kemudian, tercetuslah ide untuk membuka suatu usaha yang mungkin bisa kami lakukan bersama. Tapi perbincangan itu berakhir tanpa kesimpulan dan hanya menjadi sekadar wacana. Lalu, entah bagaimana perbincangan kami berganti pembahasan mengenai dunia tulis menulis dan seputar bacaan. Hemm kami memang memiliki hobi yang sama yaitu membaca dan mulai mecoba menulis sedikit-sedikit.

Iin bercerita mengenai kekagumannya pada penulis-penulis di Wattpad yang karya-karyanya sudah banyak diterbitkan oleh peneribit-penerbit ternama dan juga memiliki ribuan pembaca. Dia juga sangat menyukai karya-karya dari penulis luar yang bergendre romance yang banyak mengandung adegan dewasa. Menurutnya novel romantis yang best seller kebanyakan seperti itu.

Tapi saya tidak setuju. Karena dari daftar bacaanku yang meskipun kebanyakan dari penulis dalam negeri banyak juga kok novel best seller tanpa adegan-adegan dewasa seperti kissing. Contohnya, novel empat musimnya Ilana Tan. Menurutku, cerita romantis tidak harus ada adegan dewasanya. Tapi, novel yang banyak adegan dewasanya pun bukan tidak baik saya hanya lebih menyukai romantisme suatu cerita dari segi alur dan tata bahasa yang dimainkan oleh penulis.

Apa yang kita baca memang bisa membentuk cara pandang kita terhadap sesuatu. Dalam hal ini saya dan Iin memang sama-sama gemar membaca. Tapi, kami memiliki selera bacaan yang berbeda. Yang akhirnya membentuk penilaian yang berbeda terhadap suatu tulisan.

Kalau saya, saya tidak membatasi diri saya dalam membaca. Saya suka macam-macam gendre. Entah itu drama, romatis, fantasi, islami, ataupun yang memberi motivasi kehidupan. Tapi, saya paling suka membaca buku atau novel yang tata bahasanya baku dan puitis. Lain lagi dengan Iin, meskipun dia juga menyukai macam-macam gendre tapi dia kurang suka membaca novel yang bahasanya terlalu baku.  

Yaa, kesimpulannya terletak pada selera kita masing-masing. Karena meskipun ada perbedaan, kami juga tetap sepakat pada beberapa hal. Seperti, membaca novel lebih menarik dari pada menonton film adaptasinya, misalnya. Kami sama-sama menyetujui pernyataan ini.

Bukankah perbedaan itu, yang menjadikan dunia ini indah? Karena adanya perbedaanlah kita menjadi sama. Sama-sama manusia. Sama-sama punya selera. Sama-sama punya rasa. Sama-sama berbeda.

Tuesday, 3 April 2018

Insomnia


Dua hari yang lalu   saya mengalami susah tidur. Hal ini memang bukan hal yang baru bagi saya. Saya memang sangat sering mangalaminya. Bahkan biarpun saya berencana tidur lebih awal dari biasanya saya tetap tidak akan bisa tidur sebelum jam dua belas malam. Meskipun lampu sudah saya matikan dan HP saya jauhkan dari jangkauan. Tapi tetap saja mata ini susah sekali terlelap. Biasanya saya berpikir kalau susah tidur ini akibat dari kebiasaan semasa kuliah yang karena banyaknya tugas yang menumpuk jadi sering bergadang saat malam.

Terlebih dua hari yang lalu itu, saya sangat gelisah karena tidak bisa tidur. Atau karena gelisah jadi saya tidak bisa tertidur? Entahlah, yang pasti saya baru bisa terlelap pukul setengah empat subuh. Padahal beberapa kali setiap saya merasa akan terlelap ada saja yang bikin mata saya melek kembali. Seperti kaki yang gatal sedikit saja sudah membuat saya terbangun.

Saya pun bertanya-tanya apakah ini termasuk gejala insomnia? Yup dari penelusuran saya dan Tanya-tanya dari beberapa sumber di  mbah Google saya sedikit dapat pencerahan. Insomnia adalah kondisi dimana adanya ketikmampuan kita untuk mendapatkan waktu tidur yang cukup agar badan menjadi segar saat kita bangun. Ada beberapa gejala yang dialami seperti tidak bisa tidur atau bangun tidur saat tengah malam dan tidak bisa tidur lagi. Sepertinya saya termasuk golongan yang pertama karena saya seringkali tidak bisa tidur.

Ada berbagai penyebab terjadinya insomnia ini, diantaranya stres, kecemasan, rasa nyeri, makan terlalu banyak saat malam hari, dll. Hmm malam itu saya memang sedang banyak pikiran dan saya juga merasakan nyeri di ulu hati saya karena asam lambung. Mungkin itulah yang menyebabkan saya susah tidur meski sudah melakukan banyak cara untuk dapat tertidur.

Sebenarnya malam itu saya memikirkan banyak hal tentang diri saya dan bagaimana saya harus pelan-pelan mengubah kebiasaan buruk saya untuk menjadi manusia lebih baik lagi. Tapi karena terlalu banyak pikiran yang berseliweran di kepala saya, justru membuat saya sulit menghentikan diri saya untuk terus berpikir. Sementara kita juga harus mengosongkan pikiran untuk bisa beristirahat dengan baik.

Memang mengubah kebiasaan yang tidak baik itu sangat sulit. Seperti tidak bermain HP saat hendak tidur itu sangat sulit sekali untuk dihindari. Tapi untuk kebaikan diri sendiri sepertinya saya harus mengubah kebiasaan-kebiasaan saya yang tidak baik itu dan mulai mebuat kebiasaan-kebiasaan baru yang lebih bermanfaat. Agar tubuh saya ini tidak mudah diserang penyakit karena selama ini dalam satu bulan bisa lebih dari dua kali saya terkena demam dan flu. 

Rasanya sehat itu sangat mahal sekali. Jadi, untuk tetap sehat tentunya saya juga harus mulai berubah. Saya mungkin tidak bisa berubah secara langsung tapi tentunya harus melalui proses yang sepertinya akan panjang karena harus mengalahkan rasa malas saya terlebih dahulu.

Monday, 2 April 2018

Tidak Cukup Hanya Sekadar Suka

Saya suka menulis sejak SMP kelas satu. Meskipun waktu itu saya hanya sebatas menulis diary. Sedangkan membaca saya sudah menyukainya sejak SD, entah kelas berapa. Saya suka membaca mecam-macam cerita. Mulai dari dongeng sampai kisah-kisah 25 nabi.

Pernah suatu hari, saat kelas lima SD ada bazaar buku di sekolah. Saya ingin sekali membeli buku untuk bahan bacaan. Karena sebelumnya saya belum pernah memiliki buku bacaan satu pun. Tapi, saat itu saya tidak berani meminta uang banyak sama mama saya apalagi sampai seratus ribu rupiah. 

Akhirnya saya memutuskan membuka celengan saya yang isinya hanya beberapa lembar unag kertas dan sisanya uang receh. Jumlahnya sekitar seratus tiga puluhan ribu rupiah. Uang itulah yang kemudian saya bawa ke sekolah dan menukarkannya dengan beberapa buku. Buku yang masih saya ingat yang saya beli waktu itu adalah Kumpulan Cerita Anak Muslim kalau tidak salah judulnya seperti itu. Buku itu berisi kisah-kisah di jaman nabi. Tapi buku itu hilang entah kemana saat saya masuk SMP. Itulah pertama kalinya saya membeli buku.

Setelah masuk SMP, saya mulai membaca beragam novel yang saya pinjam dari perpustakaan sekolah. Saya juga mulai belajar menulis dengan menuliskan cerita-cerita saya bersama sahabat-sahabat saya. Tapi tulisan itu tidak pernah selesai.  Saya juga kadang mencorat-coret lembar terakhir buku saya dengan puisi. Waktu SMK pun tak ada perubahan. Saya tetap seperti itu. Padahal saya sangat menyukai pelajaran bahasa Indonesia dan mendapat nilai tertinggi di pelajaran bahasa Indonesia saat ujian nasional (UN).

Hingga saya masuk kuliah dan bertemu teman-teman yang juga suka menulis. Tidak, bukan suka, tapi ingin jadi penulis. Saat itu saya mulai sadar, saya mempunyai banyak kekurangan. Saya masih buta mengenai EYD, saya tidak tahu cara menulis yang baik dan benar, dan satu lagi kekurangan saya yang paling menonjol yaitu saya tidak konsisten dan disiplin dalam menulis.

Masa-masa awal kuliah ini rasanya sangat menyenangkan. Bukan hanya belajar mengenai perkuliahan tapi saya juga mulai belajar menulis dengan baik. Ditambah lagi ada seorang dosen yang sangat baik hati mau mengajari saya dan teman-teman menulis opini. Jenis tulisan yang sebelumnya tidak pernah saya tulis.

Saya juga mulai menyisihkan uang jajan saya untuk membeli buku, koran bekas ataupun majalah bekas untuk bahan bacaan. Dengan berjalannya waktu saya mulai merasa ada perbaikan dalam tulisan-tulisan saya. Tapi, saat itu pun saya belum menulis dengan konsisten. Apalagi dengan jadwal kuliah yang padat. Padahal saya sudah mempunyai blog yang pada akhirnya saya terlantarkan.

Setelah saya selesai kuliah, tepatnya setahun belakangan ini. Saya hampir tidak pernah menulis dan baru memulainya lagi beberapa waktu yang lalu. Selama itu, rasanya saya semakin bodoh. Otak saya baik yang kiri ataupun yang kanan sudah tidak dipakai lagi untuk berpikir keras. Padahal dalam hati saya selalu ada dorongan untuk menulis, menulis dan menulis. Tapi, keinginan itu tertutup oleh rasa malas yang selalu sulit untuk dikalahkan.

Membaca pun jarang. Hanya sesekali saya menengok buku-buku yang tersusun rapi di rak buku. Waktuku lebih banyak saya habiskan untuk bermain media sosial. Membaca berita yang kadang-kadang tidak penting. Haaahh  benar-benar hidup yang tidak menyenangkan sama sekali.

Semalam saya berpikir keras sampai-sampai tidak bisa tidur. Saya banyak merenung tentag diri saya, tentang keinginan saya, tentang cita-cita saya., tentang banyak hal yang ingin saya capai. Sebentar lagi saya berumur dua puluh dua tahun. Saya masih belum bekerja. Saya belum memiliki pencapaian apa-apa. Sementara, di umur begini bahkan di umur yang lebih muda lagi banyak orang yang sudah menggapai kesuksesan.

Selama ini saya selalu berpikir untuk mencari pekerjaan padahal saya juga tidak terlalu berminat untuk bekerja dalam hal itu selamanya. Di saat saya belum juga mendapat pekerjaan saya malah sibuk mengeluh. Padahal, mungkin saja di saat ini saya diberi kesempatan untuk mempelajari bidang yang selama ini saya abaikan.

Lalu saya sadar, untuk menekuni suatu bidang ataupun pekerjaan tidak cukup hanya sekadar suka. Apalagi dalam menulis, butuh lebih dari usaha untuk bisa  menjadi penulis ataupun menulis dengan baik. Dalam hidup ini, segala sesuatunya memang perlu diperjuangkan. Bukan hanya itu, kita pun perlu meluangkan banyak waktu untuk belajar apalagi untuk hal-hal yang katanya kita sukai.
Kemudian saya memutuskan untuk tidak menjadi pengangguran yang benar-benar tak menghasilkan apa-apa. Kalaupun tidak menghasilkan rupiah, setidaknya membuat saya bahagia dan merasa tenang dengan melakukan hal-hal yang saya sukai. 

Tuesday, 27 March 2018

Pengangguran


Sudah lebih sepuluh bulan saya menyandang status itu. Resah, gelisah, tanpa pencapaian apa-apa dan kadang saya merasa gagal. Ada banyak keinginan dan harapan tapi saya seolah berjalan di tempat.

Sebenarnya kegalauan akan ke mana saya setelah selesai kuliah itu sudah sejak beberapa lama sebelum saya menyandang gelar sarjana. Tapi saat itu saya memotivasi diri saya untuk menyelesaikan apa yang harus saya selesaikan dulu yaitu menyelesaikan tugas akhir. Kemudian saya mulai fokus dan ya saya menyelesaikannya dengan cukup baik. Wisuda dengan IPK 3, 64, mejadi wisudawan terbaik jurusan, dan meyelesaikan kuliah selama tiga tahun sembilan bulan. Rasanya sangat bangga apalagi saat melihat mama yang menangis terharu melihat anak nakalnya wisuda. Saya merasa telah selesai menuntaskan salah satu kewajiban saya kepada orang tuaku.

Tapi setelah itu, saya kembali lagi pada kegalauan-kegalauan sebelumnya. Ke mana saya? Apa yang akan saya lakukan setelah ini? Apa tujuan hidup saya? Apa harapan saya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalaku.

Ada banyak hal yang saya cita-citakan tapi rasanya sangat mustahil untuk terwujud. Saya juga ada keinginan untuk melanjutkan studi ke jenjang S2. Tapi, melihat kemampuan orang tua hal itu sangat tidak mungkin untuk sekarang. Untuk mencari beasiswa pun tidak semudah itu. Apalagi saya sangat kurang dalam bahasa Inggris, sedangkan rata-rata persyaratan untuk mendapat beasiswa S2 minimal skor TOEFL 500.  

Kemudian saya sampai pada kesimpulan bahwa saya harus mencari kerja terlebih dahulu. Agar saya mendapat pengalaman dalam dunia kerja dan juga setidaknya dapat pemasukan meski tidak banyak. Saya juga ingin setidaknya bisa memberikan sesuatu kepada orang tua saya dari hasil keringat saya sendiri.

Sejak saat itu saya mulai giat mencari lowongan pekerjaan (loker) dan juga menyebarkan surat lamaran kerja setiap ada loker yang terbuka. Tapi mungkin rejekiku bukan berada di tempat-tempat itu makanya sampai sekarang saya belum juga mendapat pekerjaan.

Di samping menunggu dan mencari kerja, sayapun akhirnya berusaha untuk setidaknya mendapat sedikit uang jajan tanpa meminta kepada orang tua dengan membuat macam-macam es dan kue yang kemudian saya titip ke warung orang tua saya juga sih hehe sekalian untuk menyalurkan hobi membuat kue. Saya sempat berpikir untuk membuka usaha toko kue saja. Tapi akhirnya saya urungkan karena hasilnya kurang menguntungkan dan juga tidak terlalu laris. Akhirnya sekarang saya hanya jualan es saja.

Saya juga sempat berpikir untuk jualan online kebetulan ada toko online yang harganya cukup murah dan saya tinggal jadi reseller. Tapi sampai saat ini saya belum memulai karena masih banyak pertimbangan.

Pada akhirnya saya hanya bisa bersabar dan berdoa serta berusaha untuk mendapatkan pekerjaan yang baik dan halal. Saya yakin suatu saat kalau memang rejeki saya sudah di situ pasti saya akan mendapatkannya.


~WS

Saturday, 24 March 2018

Malam Minggu Kami


Saat itu malam minggu, sekitar pukul delapan lewat dua puluh menit. Aku sedang duduk berdua dengan sahabatku di suatu rumah makan di persimpangan jalan sana. Kami sedang berbincang sambil menunggu pesanan. Pesanan kami sama, mie pangsit biasa dan segelas es jeruk. Dia yang traktir. Karena saya sudah berbaik hati menemaninya bertemu dosen pembimbing malam-malam begini.
Rumah makan ini cukup ramai, hanya ada beberapa meja yang kosong. Saya dan sahabatku duduk di deretan meja ke lima. Kami duduk berhadapan dan saya dengan posisi duduk menghadap pintu keluar bisa dengan leluasa melihat siapa saja yang keluar masuk rumah makan ini.

Di sela berbincang dengan Iin (begitu sapaan akrabnya) saya pun mengamati orang-orang di sekitar termasuk orang yang baru masuk. Awalnya, yang masuk tampak seperti sepasang kekasih mereka duduk di meja deretan ke empat di barisan 2 karena di rumah makan ini pengaturan meja makannya hanya ada dua baris dengan delapan deret meja kalau tidak salah saya tidak terlalu memperhatikan. Saya dan Iin duduk di barisan pertama. Tidak lama setelah itu, ada seorang laki-laki yang masuk, umurnya sekitar dua puluh lima atau mungin kurang dari itu. Dia memakai kemeja merah marun kotak-kotak dan sendiri. Laki-laki itu duduk di meja deretan ke tiga di depan sepasang kekasih yang tadi. Dan dia sendiri. Awalnya kupikir dia sedang menunggu seseorang.

Lalu pesanan kami datang. Saya dan Iin pun memakan makanan kami sambil membicarakan banyak hal. Tentang kami yang masih betah dengan status jomblo padahal banyak teman kami yang sudah menikah dan punya anak. Pandangan sebagian orang yang masih berpikiran kolot menganggap usia kami itu sudah terhitung sangat lambat menikah. Padahal justru di jaman sekarang usia kami ini masih tergolong sangat muda meskipun sudah layak untuk menikah.

Dalam beberapa hal saya memang mempunyai pola piker yang sama dengan Iin tapi kami juga memiliki perbedaan dalam banyak hal lainnya. Bahkan terkadang sikap kami berdua terbalik di mana yang seharusnya dia sebagai yang lebih tua lebih banyak member nasihat pada saya, justru selama ini saya yang lebih banyak menasihati dia. Seperti dalam menyelesaikan pendidikannya, bahkan saya sudah lelah menasehati dia yang terlalu lama menyelesaikan tugas akhirnya padahal kita seangkatan dan saya telah wisuda hampir setahun yang lalu.

Kami juga bercerita mengenai masa-masa sekolah di SD dulu. Yah persahabatan kami memang terjalin sudah lebih dari sepuluh tahun. Sesekali kami tertawa saat mengenang hal-hal lucu yang pernah kami lalui. Kami asik saja bercerita tanpa menghiraukan orang-orang di sekitar kita. Aahh masa bodo toh nggak kenal haha begitu pikirku.

Begitulah kami kalau bertemu selalu heboh, ini baru berdua belum kumpul berempat. Lebih heboh lagi pastinya. Tapi kumpul berempat itu sangat amat jarang terjadi karena kesibukan masing-masing. Uuuhh jadi rindu. Kami juga sangat jarang berkomunikasi walaupun melalui media sosial. Kalaupun saling menghubungi paling jika ada sesuatu yang penting atau hanya untuk menanyakan hal-hal tertentu. Toh dengan begitu pun persahabatan kami tetap bejalan baik dan harmonis.

Jarum jam sudah menujukkan pukul 21.00, makanan kami sudah tandas. Kami memutuskan untuk pulang. Tapi sebelumnya Iin membayar makanan yang tadi kami makan dulu di kasir. Saat Iin sedang memutar motornya, saya melihat si kemeja merah marun tadi keluar dari rumah makan dan masuk ke sebuah mobil warna hitam, jangan Tanya mereknya karena saya buta masalah itu hehe. Loh tampaknya memang dia sendiri kupikir sedang menunggu seseorang. “memangnya kenapa kalau dia sendiri? Kamu mau temani?” ujar Iin saat saya memberitahunya mengenai laki-laki itu. “yaaah tidaklah, kan saya hanya mengamati orang itu” jawabku tertwa.

Begitulah malam minggu kami berdua yang singkat itu berlalu. Ooh iya, buat Iin, sahabat yang sudah seperti kakak bagiku itu semoga segera menyandang gelar sarjana seceptnya. Saya doakan yang terbaik buatmu, amiiinn…


~WS

24 Maret 2018