Monday, 2 April 2018

Tidak Cukup Hanya Sekadar Suka

Saya suka menulis sejak SMP kelas satu. Meskipun waktu itu saya hanya sebatas menulis diary. Sedangkan membaca saya sudah menyukainya sejak SD, entah kelas berapa. Saya suka membaca mecam-macam cerita. Mulai dari dongeng sampai kisah-kisah 25 nabi.

Pernah suatu hari, saat kelas lima SD ada bazaar buku di sekolah. Saya ingin sekali membeli buku untuk bahan bacaan. Karena sebelumnya saya belum pernah memiliki buku bacaan satu pun. Tapi, saat itu saya tidak berani meminta uang banyak sama mama saya apalagi sampai seratus ribu rupiah. 

Akhirnya saya memutuskan membuka celengan saya yang isinya hanya beberapa lembar unag kertas dan sisanya uang receh. Jumlahnya sekitar seratus tiga puluhan ribu rupiah. Uang itulah yang kemudian saya bawa ke sekolah dan menukarkannya dengan beberapa buku. Buku yang masih saya ingat yang saya beli waktu itu adalah Kumpulan Cerita Anak Muslim kalau tidak salah judulnya seperti itu. Buku itu berisi kisah-kisah di jaman nabi. Tapi buku itu hilang entah kemana saat saya masuk SMP. Itulah pertama kalinya saya membeli buku.

Setelah masuk SMP, saya mulai membaca beragam novel yang saya pinjam dari perpustakaan sekolah. Saya juga mulai belajar menulis dengan menuliskan cerita-cerita saya bersama sahabat-sahabat saya. Tapi tulisan itu tidak pernah selesai.  Saya juga kadang mencorat-coret lembar terakhir buku saya dengan puisi. Waktu SMK pun tak ada perubahan. Saya tetap seperti itu. Padahal saya sangat menyukai pelajaran bahasa Indonesia dan mendapat nilai tertinggi di pelajaran bahasa Indonesia saat ujian nasional (UN).

Hingga saya masuk kuliah dan bertemu teman-teman yang juga suka menulis. Tidak, bukan suka, tapi ingin jadi penulis. Saat itu saya mulai sadar, saya mempunyai banyak kekurangan. Saya masih buta mengenai EYD, saya tidak tahu cara menulis yang baik dan benar, dan satu lagi kekurangan saya yang paling menonjol yaitu saya tidak konsisten dan disiplin dalam menulis.

Masa-masa awal kuliah ini rasanya sangat menyenangkan. Bukan hanya belajar mengenai perkuliahan tapi saya juga mulai belajar menulis dengan baik. Ditambah lagi ada seorang dosen yang sangat baik hati mau mengajari saya dan teman-teman menulis opini. Jenis tulisan yang sebelumnya tidak pernah saya tulis.

Saya juga mulai menyisihkan uang jajan saya untuk membeli buku, koran bekas ataupun majalah bekas untuk bahan bacaan. Dengan berjalannya waktu saya mulai merasa ada perbaikan dalam tulisan-tulisan saya. Tapi, saat itu pun saya belum menulis dengan konsisten. Apalagi dengan jadwal kuliah yang padat. Padahal saya sudah mempunyai blog yang pada akhirnya saya terlantarkan.

Setelah saya selesai kuliah, tepatnya setahun belakangan ini. Saya hampir tidak pernah menulis dan baru memulainya lagi beberapa waktu yang lalu. Selama itu, rasanya saya semakin bodoh. Otak saya baik yang kiri ataupun yang kanan sudah tidak dipakai lagi untuk berpikir keras. Padahal dalam hati saya selalu ada dorongan untuk menulis, menulis dan menulis. Tapi, keinginan itu tertutup oleh rasa malas yang selalu sulit untuk dikalahkan.

Membaca pun jarang. Hanya sesekali saya menengok buku-buku yang tersusun rapi di rak buku. Waktuku lebih banyak saya habiskan untuk bermain media sosial. Membaca berita yang kadang-kadang tidak penting. Haaahh  benar-benar hidup yang tidak menyenangkan sama sekali.

Semalam saya berpikir keras sampai-sampai tidak bisa tidur. Saya banyak merenung tentag diri saya, tentang keinginan saya, tentang cita-cita saya., tentang banyak hal yang ingin saya capai. Sebentar lagi saya berumur dua puluh dua tahun. Saya masih belum bekerja. Saya belum memiliki pencapaian apa-apa. Sementara, di umur begini bahkan di umur yang lebih muda lagi banyak orang yang sudah menggapai kesuksesan.

Selama ini saya selalu berpikir untuk mencari pekerjaan padahal saya juga tidak terlalu berminat untuk bekerja dalam hal itu selamanya. Di saat saya belum juga mendapat pekerjaan saya malah sibuk mengeluh. Padahal, mungkin saja di saat ini saya diberi kesempatan untuk mempelajari bidang yang selama ini saya abaikan.

Lalu saya sadar, untuk menekuni suatu bidang ataupun pekerjaan tidak cukup hanya sekadar suka. Apalagi dalam menulis, butuh lebih dari usaha untuk bisa  menjadi penulis ataupun menulis dengan baik. Dalam hidup ini, segala sesuatunya memang perlu diperjuangkan. Bukan hanya itu, kita pun perlu meluangkan banyak waktu untuk belajar apalagi untuk hal-hal yang katanya kita sukai.
Kemudian saya memutuskan untuk tidak menjadi pengangguran yang benar-benar tak menghasilkan apa-apa. Kalaupun tidak menghasilkan rupiah, setidaknya membuat saya bahagia dan merasa tenang dengan melakukan hal-hal yang saya sukai. 

No comments:

Post a Comment