Saya suka menulis sejak SMP kelas satu. Meskipun waktu
itu saya hanya sebatas menulis diary.
Sedangkan membaca saya sudah menyukainya sejak SD, entah kelas berapa. Saya suka
membaca mecam-macam cerita. Mulai dari dongeng sampai kisah-kisah 25 nabi.
Pernah suatu hari, saat kelas lima SD ada bazaar buku di sekolah. Saya ingin
sekali membeli buku untuk bahan bacaan. Karena sebelumnya saya belum pernah
memiliki buku bacaan satu pun. Tapi, saat itu saya tidak berani meminta uang
banyak sama mama saya apalagi sampai seratus ribu rupiah.
Akhirnya saya
memutuskan membuka celengan saya yang isinya hanya beberapa lembar unag kertas
dan sisanya uang receh. Jumlahnya sekitar seratus tiga puluhan ribu rupiah. Uang
itulah yang kemudian saya bawa ke sekolah dan menukarkannya dengan beberapa
buku. Buku yang masih saya ingat yang saya beli waktu itu adalah Kumpulan
Cerita Anak Muslim kalau tidak salah judulnya seperti itu. Buku itu berisi
kisah-kisah di jaman nabi. Tapi buku itu hilang entah kemana saat saya masuk
SMP. Itulah pertama kalinya saya membeli buku.
Setelah masuk SMP, saya mulai membaca beragam novel
yang saya pinjam dari perpustakaan sekolah. Saya juga mulai belajar menulis
dengan menuliskan cerita-cerita saya bersama sahabat-sahabat saya. Tapi tulisan
itu tidak pernah selesai. Saya juga
kadang mencorat-coret lembar terakhir buku saya dengan puisi. Waktu SMK pun tak
ada perubahan. Saya tetap seperti itu. Padahal saya sangat menyukai pelajaran
bahasa Indonesia dan mendapat nilai tertinggi di pelajaran bahasa Indonesia
saat ujian nasional (UN).
Hingga saya masuk kuliah dan bertemu teman-teman
yang juga suka menulis. Tidak, bukan suka, tapi ingin jadi penulis. Saat itu
saya mulai sadar, saya mempunyai banyak kekurangan. Saya masih buta mengenai
EYD, saya tidak tahu cara menulis yang baik dan benar, dan satu lagi kekurangan
saya yang paling menonjol yaitu saya tidak konsisten dan disiplin dalam
menulis.
Masa-masa awal kuliah ini rasanya sangat
menyenangkan. Bukan hanya belajar mengenai perkuliahan tapi saya juga mulai
belajar menulis dengan baik. Ditambah lagi ada seorang dosen yang sangat baik
hati mau mengajari saya dan teman-teman menulis opini. Jenis tulisan yang
sebelumnya tidak pernah saya tulis.
Saya juga mulai menyisihkan uang jajan saya untuk
membeli buku, koran bekas ataupun majalah bekas untuk bahan bacaan. Dengan berjalannya
waktu saya mulai merasa ada perbaikan dalam tulisan-tulisan saya. Tapi, saat
itu pun saya belum menulis dengan konsisten. Apalagi dengan jadwal kuliah yang
padat. Padahal saya sudah mempunyai blog yang pada akhirnya saya terlantarkan.
Setelah saya selesai kuliah, tepatnya setahun belakangan
ini. Saya hampir tidak pernah menulis dan baru memulainya lagi beberapa waktu
yang lalu. Selama itu, rasanya saya semakin bodoh. Otak saya baik yang kiri
ataupun yang kanan sudah tidak dipakai lagi untuk berpikir keras. Padahal dalam
hati saya selalu ada dorongan untuk menulis, menulis dan menulis. Tapi,
keinginan itu tertutup oleh rasa malas yang selalu sulit untuk dikalahkan.
Membaca pun jarang. Hanya sesekali saya menengok
buku-buku yang tersusun rapi di rak buku. Waktuku lebih banyak saya habiskan
untuk bermain media sosial. Membaca berita yang kadang-kadang tidak penting. Haaahh benar-benar hidup yang tidak menyenangkan
sama sekali.
Semalam saya berpikir keras sampai-sampai tidak bisa
tidur. Saya banyak merenung tentag diri saya, tentang keinginan saya, tentang
cita-cita saya., tentang banyak hal yang ingin saya capai. Sebentar lagi saya
berumur dua puluh dua tahun. Saya masih belum bekerja. Saya belum memiliki
pencapaian apa-apa. Sementara, di umur begini bahkan di umur yang lebih muda
lagi banyak orang yang sudah menggapai kesuksesan.
Selama ini saya selalu berpikir untuk mencari
pekerjaan padahal saya juga tidak terlalu berminat untuk bekerja dalam hal itu
selamanya. Di saat saya belum juga mendapat pekerjaan saya malah sibuk
mengeluh. Padahal, mungkin saja di saat ini saya diberi kesempatan untuk
mempelajari bidang yang selama ini saya abaikan.
Lalu saya
sadar, untuk menekuni suatu bidang ataupun pekerjaan tidak cukup hanya sekadar
suka. Apalagi dalam menulis, butuh lebih dari usaha untuk bisa menjadi penulis ataupun menulis dengan baik. Dalam
hidup ini, segala sesuatunya memang perlu diperjuangkan. Bukan hanya itu, kita
pun perlu meluangkan banyak waktu untuk belajar apalagi untuk hal-hal yang
katanya kita sukai.
Kemudian saya memutuskan untuk tidak menjadi
pengangguran yang benar-benar tak menghasilkan apa-apa. Kalaupun tidak
menghasilkan rupiah, setidaknya membuat saya bahagia dan merasa tenang dengan melakukan hal-hal yang saya sukai.
No comments:
Post a Comment