Monday, 19 March 2018

Tidak = Kita


Januari, februari, maret, april, hingga oktober. Sembilan bulan bukan waktu yang singkat bukan? Kalau seorang perempuan mengandung pasti sudah melahirkan. Lalu bagaimana dengan kita? Aaah layakkah aku menyebut aku dan kamu adalah kita? Sejak kau hadir entah dari mana di pertengahan januari, mulai saat itu pun hari-hariku tak pernah sepi.

Kau hadir di saat aku rapuh, terjatuh dan sedang berusaha bangkit dan kembali menyusun serpihan-serpihan asa yang berantakan menjadi luka yang terserak lalu tumpah berwujud air mata. Kau datang seolah menjadi angin segar di kehidupanku yang gersang dan hampa. Awalnya kita hanya saling menyapa, basa basi teman lama yang bertemu kembali. Namun seiring waktu, kita mulai berbagi kabar. Bukan lagi sekadar bertanya sedang apa, di mana, dan dengan siapa? Kau teman yang enak diajak bicara, membuatku nyaman berbagi cerita mengenai apa saja baik secara langsung ataupun lewat pesan singkat. Aku semakin mengenalmu dan kau pun begitu.

Semuanya berjalan begitu saja. Kita saling berbalas pesan di setiap waktu, kecuali di saat-saat tertentu ketika kau atau aku sedang ada pekerjaan. Hingga malam, percakapan kita akan berhenti disaat salah satu dari kita ada yang terlelap duluan untuk kemudian percakapan itu dilanjutkan lagi esok pagi. Lewat pesan singkat yang kau kirimkan terkadang membuatku senyum-senyum sendiri seperti orang gila.

Saat sedang kesal, saat sedang sedih, saat aku sedang ingin bercerita aku menghubungimu. Aku bercerita dan kau mendengarkan, memberi saran, terkadang pula menasehati. Begitu pun kau. Apapun kau ceritakan. Tentang temanmu yang kepo dan selalu menggodamu, tentang roti bakar kesukaanmu yang membuatmu menjadi lebih berisi, dan akupun akan mengejekmu. Setiap kali berbicara denganmu rasanya nyaman dan aku bisa bebas bicara apa saja, rasanya  senang sekali memiliki tempat untuk bercerita. Kau juga begitu perhatian layaknya seorang kakak yang sayang pada adiknya.

Terkadang aku bertanya-tanya, kau anggap apakah aku? Adik, sahabat, ataukah lebih dari itu? Perlakuanmu kadang membuatku baper. Bagaimana tidak, bahkan untuk hal sekecil atau sebesar apapun kau juga mempertanyakannya padaku. Kau yang sangat susah mengambil keputusan di antara dua pilihan akan bertanya padaku, meskipun telah kuberi saran kau tetap penuh pertimbangan bagai buah simalakama dan akulah yang kau buat kesal.

“Dasar aneh” ejekku saat kau masih saja bersikeras dengan kebingunganmu.

“Apanya yang aneh?” tanyamu.

“Kamu, orang paling aneh dan tidak jelas yang pernah kutemui, “ jawabku.

“Kok dibilang tidak jelas, ini aku jelas kok. Besar begini dihadapan kamu masa tidak jelas? Apa perlu kubelikan kaca mata supaya kamu bisa melihatku dengan jelas?” Candamu

Dan tawaku pun meledak “Gak nyambung,” ucapku di sela-sela tertawa. Kau juga ikut tertawa. Percakapan itupun berganti dengan percakapan lainnya.

“Jangan terlalu percaya padaku,” ucapmu suatu ketika.

“kenapa?

“Nanti kamu kecwa.”

Entah apa maksud dari ucapanmu saat itu. Apakah itu isyarat bagiku atau memang begitulah dirimu.
“kalau aku sudah percaya pada seseorang, ya aku percaya saja. Tergantung orang yang dipercaya, bisa menjaga kepercayaan atau tidak.”  Ucapku tenang dan kau tersenyum.

Percakapan kita memang terkadang aneh kurasa. Kadang datar bahkan membosankan, kadang juga percakapan itu begitu dalam sampai mengorek isi hati dan kepalaku, entah kalau kau.

Tak ada yang tahu hati manusia itu seperti apa selain pemiliknya dan Dia yang maha memiliki. Begitupun kau, sejauh manapun aku mengenalmu, sepanjang apa percakapan kita, dan seberapa lamanya aku mengenalmu aku tetap tak pernah bisa menggapaimu. Pertengahan oktober, kita masih seperti biasanya. Tetap berbagi cerita untuk kemudian saling mengejek, lalu entah bagaimana percakapan itu selesai. Pesan-pesanmu tak pernah ada lagi. Aku pun segan mengontakmu duluan. Kau tiba-tiba menghilang tanpa sebab tanpa kata. Apa kau sedang membuat jarak?

Satu dua hari, tak kupersoalkan karena akupun sibuk dengan tugas akhir yang harus kuselesaikan segera. Aku masih bertanya-tanya pada malam yang menyisakan sepi. Dulu kau selalu datang tanpa tedeng aling-aling membuatku tersenyum.

Orang-orang memang selalu silih berganti datang dikehidupan kita dan setiap orang membawa warnanya masing-masing. Entah biru, hijau, putih, abu-abu, atau merah jambu. Bisa pula, berwarna jingga seperti senja yang menggantung di ujung langit. Dan kali ini giliran kau yang pergi. Tak perlu kamus untuk menerjemahkan, tak perlu kata untuk kau jelaskan. Karena aku sudah cukup memahami bahasa alam yang memberiku isyarat. Sekarang aku mengerti, arti dari sebuah keberadaan yang tak memiliki arti. Meski berusaha memaknai, tak akan pernah kutemukan. 

Desember kali ini datang bersama kelabunya langit. Seakan tahu aku sedang berduka. Namun, sederas apa pun hujan, dia tetap akan reda juga. Air yang jatuh pun tidak pernah menyerah pada nasib yang mengantarkannya lebur di tanah. Dia akan tetap mengalir, mengalir, dan terus mengalir hingga menguap ke langit dan kembali menjadi hujan.

Setiap kehidupan memiliki siklusnya sendiri. Hidupmu, hidupku, dan kita dipertemukan bukan untuk menjadi satu. Karena kamu bukan kata yang bisa melengkapiku, menjadi rangkaian kalimat-kalimat untuk menyusun sebuah cerita.


~WS

Desember 2017

No comments:

Post a Comment