Januari, februari,
maret, april, hingga oktober. Sembilan bulan bukan waktu yang singkat bukan?
Kalau seorang perempuan mengandung pasti sudah melahirkan. Lalu bagaimana
dengan kita? Aaah layakkah aku menyebut aku dan kamu adalah kita? Sejak kau
hadir entah dari mana di pertengahan januari, mulai saat itu pun hari-hariku
tak pernah sepi.
Kau hadir di saat aku
rapuh, terjatuh dan sedang berusaha bangkit dan kembali menyusun
serpihan-serpihan asa yang berantakan menjadi luka yang terserak lalu tumpah
berwujud air mata. Kau datang seolah menjadi angin segar di kehidupanku yang
gersang dan hampa. Awalnya kita hanya saling menyapa, basa basi teman lama yang
bertemu kembali. Namun seiring waktu, kita mulai berbagi kabar. Bukan lagi
sekadar bertanya sedang apa, di mana, dan dengan siapa? Kau teman yang enak
diajak bicara, membuatku nyaman berbagi cerita mengenai apa saja baik secara
langsung ataupun lewat pesan singkat. Aku semakin mengenalmu dan kau pun
begitu.
Semuanya berjalan
begitu saja. Kita saling berbalas pesan di setiap waktu, kecuali di saat-saat
tertentu ketika kau atau aku sedang ada pekerjaan. Hingga malam, percakapan
kita akan berhenti disaat salah satu dari kita ada yang terlelap duluan untuk
kemudian percakapan itu dilanjutkan lagi esok pagi. Lewat pesan singkat yang
kau kirimkan terkadang membuatku senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
Saat sedang kesal, saat
sedang sedih, saat aku sedang ingin bercerita aku menghubungimu. Aku bercerita
dan kau mendengarkan, memberi saran, terkadang pula menasehati. Begitu pun kau.
Apapun kau ceritakan. Tentang temanmu yang kepo dan selalu menggodamu, tentang
roti bakar kesukaanmu yang membuatmu menjadi lebih berisi, dan akupun akan
mengejekmu. Setiap kali berbicara denganmu rasanya nyaman dan aku bisa bebas bicara
apa saja, rasanya senang sekali memiliki
tempat untuk bercerita. Kau juga begitu perhatian layaknya seorang kakak yang sayang
pada adiknya.
Terkadang aku
bertanya-tanya, kau anggap apakah aku? Adik, sahabat, ataukah lebih dari itu? Perlakuanmu
kadang membuatku baper. Bagaimana
tidak, bahkan untuk hal sekecil atau sebesar apapun kau juga mempertanyakannya
padaku. Kau yang sangat susah mengambil keputusan di antara dua pilihan akan
bertanya padaku, meskipun telah kuberi saran kau tetap penuh pertimbangan bagai
buah simalakama dan akulah yang kau buat kesal.
“Dasar aneh” ejekku saat
kau masih saja bersikeras dengan kebingunganmu.
“Apanya yang aneh?”
tanyamu.
“Kamu, orang paling
aneh dan tidak jelas yang pernah kutemui, “ jawabku.
“Kok dibilang tidak
jelas, ini aku jelas kok. Besar begini dihadapan kamu masa tidak jelas? Apa
perlu kubelikan kaca mata supaya kamu bisa melihatku dengan jelas?” Candamu
Dan tawaku pun meledak
“Gak nyambung,” ucapku di sela-sela tertawa. Kau juga ikut tertawa. Percakapan
itupun berganti dengan percakapan lainnya.
“Jangan terlalu percaya
padaku,” ucapmu suatu ketika.
“kenapa?
“Nanti kamu kecwa.”
Entah apa maksud dari
ucapanmu saat itu. Apakah itu isyarat bagiku atau memang begitulah dirimu.
“kalau aku sudah percaya
pada seseorang, ya aku percaya saja. Tergantung orang yang dipercaya, bisa
menjaga kepercayaan atau tidak.” Ucapku
tenang dan kau tersenyum.
Percakapan kita memang
terkadang aneh kurasa. Kadang datar bahkan membosankan, kadang juga percakapan
itu begitu dalam sampai mengorek isi hati dan kepalaku, entah kalau kau.
Tak ada yang tahu hati
manusia itu seperti apa selain pemiliknya dan Dia yang maha memiliki. Begitupun
kau, sejauh manapun aku mengenalmu, sepanjang apa percakapan kita, dan seberapa
lamanya aku mengenalmu aku tetap tak pernah bisa menggapaimu. Pertengahan
oktober, kita masih seperti biasanya. Tetap berbagi cerita untuk kemudian
saling mengejek, lalu entah bagaimana percakapan itu selesai. Pesan-pesanmu tak
pernah ada lagi. Aku pun segan mengontakmu duluan. Kau tiba-tiba menghilang
tanpa sebab tanpa kata. Apa kau sedang membuat jarak?
Satu dua hari, tak
kupersoalkan karena akupun sibuk dengan tugas akhir yang harus kuselesaikan
segera. Aku masih bertanya-tanya pada malam yang menyisakan sepi. Dulu kau
selalu datang tanpa tedeng aling-aling membuatku tersenyum.
Orang-orang memang selalu
silih berganti datang dikehidupan kita dan setiap orang membawa warnanya
masing-masing. Entah biru, hijau, putih, abu-abu, atau merah jambu. Bisa pula,
berwarna jingga seperti senja yang menggantung di ujung langit. Dan kali ini
giliran kau yang pergi. Tak perlu kamus untuk menerjemahkan, tak perlu kata
untuk kau jelaskan. Karena aku sudah cukup memahami bahasa alam yang memberiku
isyarat. Sekarang aku mengerti, arti dari sebuah keberadaan yang tak memiliki
arti. Meski berusaha memaknai, tak akan pernah kutemukan.
Desember kali ini
datang bersama kelabunya langit. Seakan tahu aku sedang berduka. Namun, sederas
apa pun hujan, dia tetap akan reda juga. Air yang jatuh pun tidak pernah
menyerah pada nasib yang mengantarkannya lebur di tanah. Dia akan tetap mengalir,
mengalir, dan terus mengalir hingga menguap ke langit dan kembali menjadi
hujan.
Setiap kehidupan
memiliki siklusnya sendiri. Hidupmu, hidupku, dan kita dipertemukan bukan untuk
menjadi satu. Karena kamu bukan kata yang bisa melengkapiku, menjadi rangkaian
kalimat-kalimat untuk menyusun sebuah cerita.
~WS
Desember 2017
No comments:
Post a Comment