Showing posts with label Untuk Matahari. Show all posts
Showing posts with label Untuk Matahari. Show all posts

Monday, 7 May 2018

My day

Hari ini ulang tahunku. 7 mey 2018. Sekarang umurku genap 22 tahun. Aku senang, seharian tadi hujan turun. Sehingga aku bisa tidur siang dengan nyenyak.


Tadi aku buat kue, rencananya untuk menghadiahi diri sendiri. Tapi kuenya belum kumakan. Karena bentuknya masih berantakan dan belum dihias.


Alhamdulillah, usia bertambah meski jatah waktu kehidupan berkurang. Terimakasih Allah, atas segala nikmat yang engkau berikan kepadaku hingga detik ini. Nikmat sehat dan udara yang masih bisa aku hirup sesungguhnya adalah kenikmatan yang luar biasa.


Aku tak perlu kado atau hadiah. Cukup kirimkan doa terbaik untukku. Atau kalau tidak bantu aminkan segala doa dan harapanku saja.


Untuk diriku, ayo berjuang meraih mimpi dan apa yang kita cita-citakan. Meski lelah karena kegagalan tapi jangan menyerah dan terus berusaha. Yakin suatu hari ada cahaya terang yang akan menyambut di ujung jalan.


Juga pertemuan denganmu, yang tak pernah bosan kutunggu. Cepatlah datang dan mari merayakan setiap hari bersama-sama.

~WS

Monday, 23 April 2018

Hujan

Hujan. Aku suka hujan.
Hujan itu, begitu kuat yah?
Karena dia berasal dari ketinggian yang jaraknya begitu jauh dari permukaan bumi, sebelum mendarat dan jatuh di mana saja dan menimpa apa saja.

Di atas genting, di dedaunan, di atas rumput, di aspal, di tanah yang gersang, di kendaraan yang tengah melintas di jalanan.  Atau di atas payung merah jambu bergambar hello kitty, milik seorang gadis kecil yang lucu dan sedang berlari-lari kecil menuju sekolahnya. Setelah reda, ia akan meninggalkan aroma basah yang begitu melekat. Juga udara lembab yang membuat siapa saja merasa enggan menanggalkan selimut tebalnya.

Waktu kecil, aku begitu suka bermain hujan. Berlarian ke sana kemari. Menikmati air hujan yang jatuh di atas kepalaku rasanya begitu menyenangkan.

Kadang-kadang untuk dapat menikmati hujan di luar, aku harus memelas dan memohon-mohon kepada mama agar diizinkan. Akupun akan sangat kecewa bila tak mendapat izin untuk bermain dan mandi hujan. Pernah juga aku sembunyi-sembunyi keluar rumah dan bermain hujan saat mama tengah tertidur pulas.

Aaahh ingin sekali mengulang semuanya. Merasakan bagaimana dinginya bulir-bulir air yang jatuh dari langit menerpa wajahku dan membasahi seluruh tubuhku yang mungil. Serunya bermain dan berkejaran di tangah derasnya rinai hujan bersama teman-teman. Berteriak sekencang-kencangnya tanpa takut di protes oleh orang dewasa, karena toh suara hujan mengalahkan nyaringnya teriakanku.

Meski setelah puas bermain dan mandi hujan seluruh tubuhku akan menggigil kedinganan dan aku akan langsung meringkuk di balik selimut. Lalu kemudian tertidur lelap, ditemani suara hujan yang belum juga reda.

Oohh hujan.... kau memberiku kenangan masa kecil yang sangat menyenangkan.

Tapi, kini aku tak bisa dengan mudah menikmati perasaan menyenangkan ketika hujan turun seperti saat kanak-kanak dulu. Karena tiap kali terkena hujan, aku bisa langsung terserang flu dan demam hingga berhari-hari. Kata dokter, aku alergi cuaca.

Uuhhh menyebalkan bukan? Di saat kau tak dapat menikmati kesukaanmu dengan leluasa. Seperti saat ini, fluku masih saja tak kunjung sembuh. Padahal sudah hampir seminggu dan hanya karena aku habis terkena gerimis dan tak sampai basah kuyup.

Tapi, aku masih menyukai hujan. Biarpun terkadang hujan yang turun terus menerus malah menghambat aktivitasku. Aku juga terkadang menggerutu dan mengutuk kenapa hujan harus turun di saat yang tidak tepat. Tapi, itu tidak tepat dalam pandanganku bukan? Dan hujan turun atas kehendak sang pencipta. Memangnya siapa aku yang berani menentang kehendak-Nya?

Meski tak bisa menikmati hujan seperti dulu lagi. Tapi aku masih bisa menikmatinya dengan cara yang lain. Seperti mendengar suara hujan, atau memandang air yang jatuh ketika hujan. Dan rasanya tetap sama. Menenangkan. Aku suka.

Lalu, ketika hujan turun di tengah malam seperti ini, membuatku ingin cepat-cepat terlelap. Kemudian bermimpi indah. Di mana saat hujan ada kamu dan aku. Yang sedang berlarian, bercanda tawa di tengah gerimis yang romantis. 

Aahh... sekarang malam sudah semakin larut. Aku harus segera tidur. Banyak rencana yang sudah kususun untuk esok hari.

Hujan, temani aku malam ini. Jangan reda terlalu cepat. Besok pagi saja kalau kau ingin berhenti.

Untuk kamu, kuucapkan selamat tidur. Kudoakan, esok harimu menyenangkan. Salam rindu dariku, di sebuah kota yang tengah di guyur hujan.


~WS

Tuesday, 20 March 2018

Matahari


Ini tentang “matahari” kalau merujuk pada arti katanya matahari adalah benda angkasa, titik pusat tata surya berupa bola berisi gas yang mendatangkan terang dan panas pada bumi pada siang hari (https://kbbi.web.id/matahari). Matahari juga merupakan sumber cahaya bagi bulan. Karena bulan tidak dapat memancarkan cahayanya sendiri. Bulan hanya memantulkan cahaya matahari yang kemudian membuatnya bersinar di malam hari. Tanpa matahari, mungkin tak akan ada kehidupan di dunia ini.

Dan matahari adalah julukan yang kuberikan untukmu. Kenapa? Karena aku suka bintang tapi bintang itu jauh tak dapat kujangkau. Sekalipun aku mendekat rupanya tak akan sesuai dengan bintang yang kukenali selama ini. Karena itu aku lebih memilih matahari, sekalipun matahari termasuk salah satu bintang, tapi matahari cuma ada satu. Dan sinarnya mampu memberikan kehidupan di bumi ini.

Matahari selalu ada meski saat malam tak terlihat tapi cahanya tetap menerangi malam melalui bulan. Bulan dan matahari memang tak mungkin muncul di waktu yang sama. Tapi mereka berbagi cahaya yang sama dan punya tujuan yang sama, menerangi bumi. Sehingga dapat dikatakan mereka saling melengkapi.

Begitu pun kau, bagiku kaulah matahariku. Kau memang belum ada di sisiku saat ini, tapi aku tahu kau ada. Entah di belahan dunia mana.

Seperti bulan yang ada untuk memancarkan sinar matahari kala malam. Aku pun ada sebagai cerminan diri dan untuk melengkapimu. Agar kamu tak sendirian menjalani kehidupan ini.

Seperti juga matahari yang tak hanya ada untuk menerangi bumi, tapi dia ada agar bulan juga dapat bercahaya. Kaupun sama, bagiku kehadiranmu akan menjadi terangku. Kau adalah cerminan diriku dan pelengkapku. Kaulah yang akan menjadi pembimbingku mengarungi hidup.

Kalau matahari dan bulan saling melengkapi dengan cahayanya, maka kau dan aku saling melengkapi dengan cinta. Sekarang kita memang belum bertemu tapi aku tahu aku akan mencintaimu. Kuharap kaupun sama, dapat memberikn cinta sebanyak ribuan cahaya yang dipancarkan matahari pada bulan hingga bulanpun dapat bersinar terang.

Malam ini tak ada bulan yang bersinar, juga tak ada hujan. Hanya ada bintang yang berkelap-kelip menggoda. Jangan memaksaku memilih salah satu di antara mereka. Atau kau sedang bersembunyi di antara mereka yah? Sehingga aku belum juga menemukanmu. Jangan buatku terlalu lama menunggu dan mencari aku bisa dengan mudah mengenalimu karena kaulah bintang yang paling terang. Tapi kau perlu menampakkan diri, agar aku tak keliru.*


~WS

20 Maret 2018

Monday, 19 March 2018

Jodoh


Sudah menjadi hal yang lumrah kalau seseorang ingin memiliki pasangan dan memang sewajarnyalah begitu. Apalagi setelah menginjak usia dewasa, masalah ini seperti sudah menjadi momok. Terlebih lagi bagi para mereka yang berstatus jomblo menanyakan hal yang berkaitan dengan jodoh atau pernikahan sama saja dengan menusukan pedang ke ulu hatinya karena hal ini sangatlah sensitif.

Berbicara masalah jodoh ataupun pernikahan, tidak lama lagi ada seorang teman kuliahku yang akan segera naik ke pelaminan. Yang lagi-lagi membuat heboh di grup. Grup kelas semasa kuliah yang tadinya berisi percakapan-percakapan mengenai kehidupan kampus, tugas, skripsi, jadwal ujian dan sebagainya kini berubah menjadi disukusi mengenai jodoh ini. Dan bukan yang mau menikah saja yang menjadi pembahasan tapi malah menjadi ajang “pem-bullyan” terhadap yang belum ada tanda-tanda untuk menyusul. 

Yaah semua itu memang berifat candaan dan tak bermaksud menyinggung satu sama lain. Cuma seru saja, dan kalau tidak mau jadi sasaran cukup jadi silent reader saja sambil ketawa ngakak. Hidup ini aneh memang atau tidak. Memang sudah begitulah siklus kehidupan. Setelah melewati suatu tahap maka akan melalui tahap yang berikutnya lagi.

Saya juga baru saja menonton tayangan Shihab & Shihab di youtube. Pembahasannya sangat menarik dengan tema #Jodohpastibertemu. Lagi-lagi tentang jodoh. Kata Abi Quraish Shihab, Jodoh itu adalah pasangan dan semuanya diciptakan berpasang-pasangan. Namun, untuk menemukan pasangan itu perlu ada usaha yang dilakukan oleh manusia. Contoh kecil usaha dalam menemukan jodoh adalah dengan doa.

Masih kata Abi Quraish Shihab, jodoh adalah cerminan diri sekaligus pelengkap dan kita boleh saling mengenal sebagai usaha dalam pencarian jodoh dengan tidak melanggar norma agama. Pembahasan dan pemikiran yang sangat terbuka tersebut bisa menjadi inspirasi bagi mereka yang masih dan sedang berusaha mencari jodohnya.

Ooh iya, saya juga sangat suka satu kalimat dari Abi Quraish Shihab yaitu “cinta yang sebenarnya adalah bukan lagi kata-kata yang berbicara tetapi mata dan hati.” Karena itu tidak tepat kalau orang bilang jatuh cinta, karena jatuh itu tidak disengaja sedang cinta itu diusahakan.

Namun, apapun namanya jika memang sudah waktunya maka jodoh itu pasti dipertemukan jiakalau pun belum janganlah risau juga tidak perlu terburu-buru. Usaha dan berdoa saja, karena ya itu tadi semuanya diciptakan berpasang-pasangan.

Menurutku juga begitu, walau terkadang ada rasa resah karena belum menemukan si “matahari” dan orang tua yang sudah seringkali memberikan isyarat. Juga kalau menghadiri sebuah pesta pernikahan pasti dalam hati selalu ada pertanyaan “saya kapan yah?” Tapi, itu bukan satu-satunya tujuan hidup bukan? Saya pun juga masih muda dan punya cita-cita yang lain. Selagi berusaha mencari sang matahari kenapa tidak membuat pencapaian buat diri sendiri.

Sendiri itu bukan aib. Lebih baik sedikit terlambat dalam menemukan jodoh tapi untuk sekali seumur hidup daripada cepat tapi pada akhirnya jadi berkali-kali.


~WS

19 Maret 2018