Sunday, 26 May 2019

Kalut


Berapa lamakah waktu yang ideal yang dibutuhkan seseorang untuk melupakan? Bukan hanya melupakan manusianya tapi juga seluruh kenangan dan segala rasa yang masih tertinggal setelah cerita yang usai. Bahkan setelah tak ada lagi harap, tangis yang sudah mengering, tapi duka belum juga selesai. Bukan karena ingin kembali, justru karena tidak ingin mengulang cerita yang sama walau dengan orang yang baru.

Semakin mengenal seseorang semakin bertambah pula keraguan yang muncul.  Ingin merajut harapan yang baru tapi terlalu takut akan kecewa yang berulang. Kepalaku pening disesaki pertanyaan demi pertanyaan yang tak kunjung mendapat jawaban. Segala rasa yang bercampur begitu menyesakkan.

Tak apakah membuka hati dan mengizinkan seseorang mengisi ruang kosong yang begitu hampa di sana? Apakah setelah jatuh aku tidak akan tenggelam? Bisakah aku kembali berdiri jika pada akhirnya aku hanya menambah luka? Kalau seandainya aku menyimpan harap, akankah tak kutemui kecewa jika itu dia? Layakkah aku memiliki rasa itu? Bagaimana jika semua hanya semu?

Ya aku begitu takut akan perasaanku sendiri. Aku ragu dengan segala kemungkinan. Sebab aku pernah begitu mencinta, sebab percayaku sungguh terlalu, dan hatiku kuserahkan seluruh. Karena akhir yang berujung kecewa membuatku tak lagi ingin percaya pada segala yang berwujud semu. Jika harus mengulang kisah yang sama, aku lebih memilih untuk tak pernah memulai. Termasuk manaruh harap apalagi coba-coba menyimpan rasa.

Jadi tolong jangan menyiksaku dengan hadirmu. Jangan membuatku nyaman denganmu, jangan buat aku tergantung padamu. Jangan datang kalau hanya untuk pergi. Karena aku sudah susah payah untuk sampai di titik ini.

~WS

26 Mei 2019

Saturday, 30 March 2019

ALL ABOUT ORIENTASI CPNSD PEMERINTAH KOTA KENDARI 2018


Sebuah catatan untuk kenangan singkat yang sangat berkesan

            “Kita boleh membenci sesuatu, tapi jangan terkejut bila nanti Tuhan menjadikannya sebagai salah satu hal yang mengubah hidupmu…” – Budi Waluyo
           
Cukup lama, saya membiarkan segala ide dan keinginan untuk menulis, mengendap, ditelan ketermalasan. Aaah saya masih saja tak berubah yah… tapi, kali ini saya ingin bercerita panjang. Tentang awal dari sebuah perjalanan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Tentang menjadi apa yang tidak pernah saya inginkan. Namun, ketika berada di titik ini luar biasa sekali rasanya.
           
Dulu, difikaran saya menjadi Pegawai Negeri sipil (PNS) itu apa bagusnya sih? Berseragam, penuh aturan, dll. PNS sama sekali tidak pernah masuk dalam list cita-cita saya. Meski sebenarnya saya tidak pernah yakin betul ingin menjadi apa saya kelak. Bahkan saya pernah berada di titik jenuh, titik di mana saya merasa gagal, resah, dan tak bisa menjadi apa-apa. Di saat teman-teman saya sudah melangkah jauh dengan impian mereka saya hanya bisa menjadi penonton. Ditambah lagi dengan kegagalan yang berulang membuat semangat saya tumbang. Saya lelah mencoba tapi saya menolak menyerah. Saya menyadari betul banyak sekali kekurangan dalam diri saya, tapi sangat tidak tahu diri untuk bercita-cita terlalu tinggi. Tapi tak ada yang tak mungkin jika sudah Allah SWT. yang berkehendak.
            
Awalnya mengikuti seleksi CPNS 2018 ini, saya tidak terlalu berharap bisa lulus seleksi apalagi melihat banyaknya pendaftar rasanya kesempatan itu cuma 0,0001 %. Tapi, di dalam lubuk hati saya, selalu berbisik “waah kalau lulus kayaknya keren juga yah” dan kadang-kadang terbersit dalam lamunan saya, yang melihat diri saya menjadi seorang PNS tapi selalu saya tepis bayangan itu agar tak terlalu kecewa jika tak sesuai realita.
            
Saya menyelesaikan pendaftaran online dan mengirimkan berkas pada hari terakhir, saking tidak antusiasnya dengan seleksi CPNS ini. Bahkan mendekati waktu tespun saya masih ogah-ogahan mempelajari soal-soal TKD (Tes Kompetensi Dasar) yang banyak bertebaran. Lalu harapan yang tak seberapa itu pun kian terkikis ketika nilai saya tidak mencapai passinggrade. Nyatanya kesempatan itu kembali datang saat saya dinyatakan berhak mengikuti Tes Kompetensi Bidang (TKB) karena menduduki peringkat ke dua di tes sebelumnya. Asa itu mulai muncul, apalagi melihat orang tua yang begitu gembira dengan kabar tersebut. Berkat doa dan dukungan mereka pula saya melalui tes TKB dengan sangat baik dan bisa menjadi salah satu dari 167 orang yang dinyatakan lulus menjadi CPNSD Kota Kendari.
            
Kemarin, orientasi baru saja usai. Setelah melalui proses yang saaangat panjang. Dimulai sejak dinyatakan lulus, lalu pemberkasan, dan penantian pertek NIP yang membuat detak jantung berdetak tidak normal setiap harinya.

Semua proses ini tidak dilalui dengan sendiri. Dari proses inilah saya berkenalan dan bertemu dengan teman-teman dan orang-orang baru. Karena bersama membuat semua yang kita lalui menjadi mudah. Ditambah dengan adanya grup WA (Whatsapp) membuat keakraban di antara kami semakin erat terjalin meski baru saling mengenal kemarin. Walau ada banyak drama juga yang tercipta dan apa saja bisa menjadi perdebatan. Seperti luas mana kelurahan atau kecamatan misalnya, menjadi perdebatan yang tak ada ujungnya saat pengisian DRH (Daftar Riwayat Hidup) tempo hari. Atau simpang siurnya info mengenai 9 jeti (baca juta) menjadi drama yang tak kalah serunya dari sinetron yang menjadi viral beberapa hari sebelum orientasi dimulai. Grup-grup WA juga menjadi salah satu mood boster saya karena percakapannya yang sangat menghibur meski kadang membuat HP eror karena ratusan chat yang masuk.

Berasal dari latar belakang, disiplin ilmu, asal daerah, usia, dan karakter yang berbeda membuat diskusi selalu seru. Di sini saya belajar untuk menerima perbedaan dan tidak memaksakan pendapat. Sebab kita semua punya tujuan yang sama yaitu mengabdi pada bangsa dan Negara terkhusus untuk daerah kota Kendari. Keterbukaan teman-teman dan kakak-kakak membuat saya tidak canggung berinteraksi dengan mereka. Bahkan menbuat saya sangat jauh keluar dari diri saya biasanya yang pemalu, tertutup dan tidak mudah bergaul dengan orang baru.

Selain itu pembentukan kelompok juga sangat berperan penting dalam melewati proses ini. Kelompokku ada dua yang pertama kelompok 7, kelompok yang dibentuk saat awal pemberkasan dan yang kedua kelompok 5 kelompok yang dibentuk saat mengikuti orientasi. Untuk kelompok 7, sejak awal terbentuk kita sudah kompak, selalu menyempatkan foto dan makan bersama beberapa kali. Bahkan setelah dipencar ke dalam kelompok-kelompok baru pun tidak membuat kami melupa. Mungkin ini berkat ketua kelompok juga yang yang terbaik mengakomodir anggotanya. Di kelompok lima, kami terdiri dari berbagai formasi. Ada ibu-ibu dari pelamar X tenaga honorer K2 yang suka heboh dan doyan foto, ada dokter, guru, dll. Yang pasti kelompok kitalah yang paling kalem.
            
Orientasi dimulai pada hari senin, 25 Maret 2019.  Kami berseragam hitam putih, lengkap dengan papan nama dan pin korpri. Dalam orientasi ini kami mengikuti banyak kegiatan ada pemberian materi di ruangan yakni pengenalan tentang aturan-aturan yang berlaku bagi PNS, bagaimana kita harus bersikap, seperti apa pengawasan yang melekat, ataupun tentang pengembangan diri dimana menjadi PNS bukan berarti membatasi gerak kita untuk berkembang.
            
Ada juga kegiatan di luar ruangan yakni latihan PBB (Peraturan Baris Berbaris) yang mengingatkan saya pada saat SMP dulu pernah mengikuti gerak jalan, tapi masih juga salah-salah saat pelatihan kemarin. Pada hari kamis atau hari keempat pelaksaan orientasi ada giat penanaman pohon di jalan Madusila, yang tak sesuai realita karena kelompok kami tidak mendapatkan pohon, akhirnya cuma memasang pagar pelindung. Usai penanaman pohon, kami makan-makan bersama di pinggir lapangan dan juga outbond di taman kota, yang mana kelompok kami kalah semangat dan kompak dengan kelompok lain karena terlalu kalem.
            
Yang paling mendebarkan adalah ketika saya ditunjuk dan ditugaskan untuk menjadi perwakilan kelompok sebagai penerima SK 80% dan akan berhadapan langsung dengan pak Walikota. Apalagi saat latihan dan gladi saya masih saja salah dan gagal fokus. Di sisi lain ingin memberikan penampilan terbaik, karena ini adalah pengalaman yang mungkin hanya akan ada sekali seumur hidup.
            
Hari pentupan orientasi tiba, saya terbangun pukul tiga pagi dan tak bisa terlelap lagi. Berbagai prasangka meresahkan fikiranku. Cemas, takut salah, tegang, gugup, campur aduk menjadi satu. Saat hari masih berkabut, matahari belum muncul sempurna saya sudah menunggangi beblue (motor butut kesayangan) membelah jalanan kota lulo yang sudah mulai ramai dengan anak sekolah yang berbondong-bondong menuju sekolah. Jadi ingat, dulu waktu sekolah saya selalu berangkat pagi sekali dan kadang jadi orang pertama yang tiba di sekolah meski rumah saya paling jauh. Tak terasa saya sampai di pelataran parkir kantor Walikota Kendari. Sudah ada beberapa teman yang tiba. Semakin tinggi matahari bersinar sayapun semakin deg-degan.

Usai mengikuti apel pagi kami foto-foto bersama teman sekelompok lalu memasuki aula dan bersiap untuk acara penutupan orientasi. Semakin gugup dan rasanya ingin cepat-cepat selesai saja acara ini. Apalagi ketika kami sudah berada di depan dan saat gladi terakhir saya masih melakukan kesalahan.

Acara penutupan orientasi pun dimulai, setelah sambutan panitia dan Walikota, tibalah saatnya penanggalan tanda peserta orientasi dan penerimaan SK. Saya berusaha fokus meski kelihatan sekali tegangnya di wajah saya. Bukan hanya saya, tapi kami berlima yang menjadi perwakilan kelompok merasakan ketegangan yang sama. Sulit sekali harus melukiskan perasaanku saat berhadapan langsung dengan pak Walikota dan menerima SK dari beliau. Tegang campur haru, bahagia, bangga, pengen nangis tapi juga pengen teriak kencang dan lompat-lompat kegirangan. Tapi, keadaannya tidak memungkinkan dan masih harus tetap fokus. Setelah foto bersama kami pun kembali ke tempat duduk, barulah saya bisa bernafas lega.  
Sungguh menjadi PNS saja, sama sekali tak pernah terbayangkan olehku. Berada di antara 167 orang ini saja sudah sangat membanggakan dan membahagiakan bagi saya, apalagi menjadi perwakilan kelompok yang sebenarnya teman-teman lain jauh lebih baik dari pada saya yang tak ada apa-apanya ini.

Masa orientasi yang sangat berkesan dan menyenangkan. Teman-teman baik yang tidak sombong dan sangat ramah, panitia yang bekerja dengan sangat baik melayani kami dari awal dan sangat fleksibel sama sekali tidak menyusahkan kami. Semuanya memberikan kenangan yang tak  akan terlupakan.

Terimakasih untuk kesempatan luar biasa ini. Terimakasih Allah nikmat-Mu sungguh tiada terkira. Terimakasih mama, bapak, kakak, saudara, sahabat, teman, dan semuanya yang selalu mendukung dan memberikan saya kekuatan untuk tidak pantang menyerah. Terimakasih Panitia dan teman-teman CPNSD Kota Kendari 2018, semoga persaudaraan kita tetap terjalin dan buat semuanya sukses selalu di tempat pengabdian masing-masing.

Dan pada akhirnya, sebuah pertemuan akan menyisahkan perpisahan. Tapi, kita bisa memilih melupakan atau menyambung silaturahmi. Kalau aku pasti memilih yang kedua. Masa orientasi ini pasti akan kita rindukan. Tapi, jangan rindu kawan sebab kita tak kemana-mana. Kita di sini dalam naungan Pemerintah Kota Kendari.

Sekian….

-Wulan

30-31 Maret 2019 00:45

Sunday, 11 November 2018

Tentang November


Di bulan yang sama, tiga tahun lalu, tepatnya November 2015 aku pernah berada dalam titik terendah kehidupanku. Dihadapkan pada persoalan yang begitu pelik sampai rasanya tak mampu menghadapi dunia ketika membuka mata di pagi hari.

Masa-masa itu adalah saat terberat yang pernah aku jalani. Di tengah akhir semester, masa-masa ujian dengan tugas yang menumpuk yang menguras otak dan tenaga untuk menyelesaikannya. Aku bertemu kenyataan di mana aku dipaksa harus memilih antara seseorang yang selama ini kuperjuangkan dengan orang-orang yang selama ini berjuang untuk kehidupanku. Lalu kisah yang telah dirajut dengan asa untuk bersama itu pun kandas tanpa kata tanpa penyelesaian. Karena dia yang juga tak peduli. Sampai saat ini pun aku masih bingung dengan kata dan kalimat apa aku bisa mendeskripsikan saat-saat itu.

Bukan hal yang mudah untuk melewati tiga tahun ini, dan ternyata aku mampu melewati segalanya dengan baik. Meski sempat terpuruk, tak ada gairah menjalani hidup, sampai tak mampu untuk bercerita kepada siapapun. Semua luka, sakit hati, kesedihan, penyesalan dan air mata aku pendam sendiri. Bahkan di tengah keramaian dan saat tertawapun, aku sebenarnya menangis.

Kemudian aku belajar untuk menjadi kuat, berdiri di atas luka dan berusaha untuk membuktikan bahwa aku mampu melewati fase itu dan menjadi pribadi yang lebih baik. Karena keyakinanku, Allah tak akan memberikan ujian di luar batas kemampuanku. Awalnya memang berat, sangat, tapi tak ada yang tak mungkin jika kita terus berusaha untuk melupakan dan menerima dengan ikhlas apa yang telah digariskan-Nya.

Kini aku telah berdamai dengan masa lalu. Seiring waktu, aku belajar banyak hal yang mengkin menjadi pemicu mengapa ujian yang berat itu datang sebab kesalahanku sendiri. Yang pasti, aku tak ingin mengulang kesalahan yang sama. Karena itu, untuk saat ini aku lebih memilih sendiri. Kesendirian ini membuatku menjadi lebih mandiri tanpa tergantung dengan orang lain, tanpa mengharapkan apapun dari orang lain.

Meski sepi kadang menyelimuti rasa. Walau iri kadang terselip di hati melihat mereka yang telah berdua. Tapi aku tak ingin terlarut. Hidup bukan hanya tentang persoalan rasa dan hubungan antara pria dan wanita. Hidup jauh lebih berarti dari sekadar urusan cinta. Meraih impian dan menjadi orang yang berguna buat orang lain jauh lebih utama untuk dikejar.

Bukan tak ingin untuk jatuh cinta lagi, hanya saja, kau tahu, orang yang hatinya pernah patah tak akan mudah untuk kembali membuka hati. Karena untuk sampai di titik ini saja butuh perjuangan yang luar biasa. 


-WS

Saturday, 20 October 2018

Hari Pertama


“Waktunya tidur, istirahat. Besok, kita akan memulai petualangan baru. Bismillah….”

Itulah kata-kata yang saya tulis di memo HP sebelum terlelap malam itu. Keesokan paginya saat hari masih gelap, alrm yang sudah  saya atur untuk berbunyi tiap 5 menit (kalau tidak begini dijamin gak akan bisa bangun pagi wkwkwk) berdering-dering membangunkan saya yang masih mager (malas gerak). Tapi, mengingat hari ini adalah hari pertama saya mulai bekerja, sayapun segera bangun, melaksanakan shalat subuh dan lalu bersiap-siap ke kantor.

Saat pagi menyapa, mendung menyelimuti langit. Hari tampak muram, tapi tidak dengan diriku yang pagi itu mempunyai semangat baru untuk memulai hari-hari baru, memulai kehidupan dalam dunia kerja. Dengan menunggangi si beblue (baby blue julukan untuk motor butut kesayanganku yang terinspirasi dari webtoon spirit fingers) saya menuju ke kantor yang mulai hari ini akan menjadi rumah kedua untukku. Karena di tempat inilah setengah hariku akan saya lewati. Aahh… orang-orang seperti apakah yang akan saya temui nanti? Pertanyaan itu mengusik fikiranku sepanjang jalan.

Pukul 07. 30 WITA saya sudah tiba. Saya memarkirkan si beblue lalu melangkah memasuki gedung kantor yang berlantai tiga itu. Masih sepi. Cuma ada security dan cleaning service yang tengah membersihkan ruangan front office, entah kalau di bagian dalam kantor. Saya duduk di kursi tunggu dengan perasaan campur aduk. Gugup, canggung, merasa asing sekaligus antusias.

Selang beberapa saat, datanglah ibu Fatma sosok yang ramah dan murah senyum, itulah kesan pertama yang saya tangkap saat pertama kali bertemu dengannya ketika interview kemarin, kelak saya tahu beliau tipe yang sangat kocak, lucu dan humoris. Sayapun diajak ke ruangan yang akan menjadi tempatku bekerja bersama dengan beberapa karyawan lain.

Lalu satu persatu karyawan lain datang dan saya diperkenalkan dengan mereka. Berbagai tanggapan mewarnai kehadiranku di kantor hari itu, menjadi bahan candaan dengan pertanyaan-pertanyaan konyol yang saya tahu hanya untuk lebih mengenalku saja, karena mungkin saya tampak sangat pendiam. Perasaan canggung benar-benar menguasai diriku. Saya hanya sesekali tersenyum dan bicara saat ditanya.

Saya memang bukan tipe orang yang friendly dan mudah berbaur dengan orang yang baru saya temui. Tapi, saya akan pelan-pelan menyesuaikan diri setelah saya cukup mengenal karakter orang-orang di lingkungan baru saya tersebut.

Di luar, hujan gerimis membasahi kota siang hari itu. Saya mulai diajari hal-hal yang harus saya kerjakan. Tak banyak dan cuma hal-hal yang sederhana. Hari itupun berlalu dengan canggung yang masih tersisa hingga beberapa hari berikutnya.

Hari itu, sudah lewat beberapa pekan lalu. Kini saya sudah bisa beradaptasi dengan baik di lingkungan kerjaku. Pun tanpa masalah berarti dan semoga sampai seterusnya begitu, karena kehidupan tak akan mungkin terus berjalan dengan mulus. Hari-hari esok masih penuh dengan tanda tanya. Tapi mengambil banyak pelajaran dan menjadikannya sebagai pengalaman berharga adalah sesuatu yang pasti. Saya memilih untuk menikmatinya dan memberikan yang terbaik dalam hal apapun yang saya kerjakan.




~WS

10-20 Oktober 2018

Tuesday, 2 October 2018

Kabar Baiknyaa…


Sudah dari beberapa hari yang lalu saya berniat untuk mulai menulis lagi di blog ini, tapi selalu tidak bisa menyempatkan diri. Yaah saya sangat tidak konsisten, karena beberapa bulan belakangan saya kehilangan motivasi dan bahan untuk mengisi blog ini. Tapi, saya akan usahakan untuk rutin menulis lagi. Karena tanpa menulis rasanya seperti ada yang hilang dari keseharian saya.

Kali ini saya ingin memberi kabar baik. Setelah belasan hingga puluhan lamaran yang saya kirimkan ke berbagai perusahaan dan kantor yang ada di kota ini, dengan rekomendasi seorang teman yang sangat baik akhirnya saya pun bisa mulai mengenal dunia kerja.

Sudah putus asa, sempat ingin berhenti berusaha, harapan mungkin tinggal seujung kuku. Bahkan saya sudah menyusun rencana-rencana lain setelah menemui kegagalan berkali-kali. Tapi dalam hati kecil selalu ada doa dan harapan yang tidak pernah putus meski tak saya ucapkan lewat lisan, untuk mendapatkan pekerjaan yang meskipun tidak menjadi “apa-apa” dengan gaji yang meski tidak seberapa. Setidaknya cukup sebagai tempat untuk saya mendapat pengalaman dan pelajaran berharga dalam dunia kerja.

Allah ternyata menjawab doa yang saya panjatkan dalam diam itu. Harapan sederhana yang tidak menggebu-gebu. Keinginan yang saya pendam sendiri. Meski bukan itu hal yang selalu saya usahakan tapi saya selalu merasa membutuhkannya. Dan Allah benar-benar memberikan apa yang saya butuhkan saat ini.

Kita mungkin punya keinginan yang sangat banyak, tapi hati kecil kita sebenarnya tahu apa yang paling kita butuhkan. Dan Allah hanya memberikan apa yang terbaik yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Semoga pekerjaan ini menjadi langkah awal pembuka rezeki dari impian dan rencana-rencana yang ingin saya usahakan untuk dapat terwujud. Bismillah…. Perjalanan kita masih sangat panjang ini barulah awal.

#wstory


Tuesday, 22 May 2018

Seseorang Yang Kutemui

Hari ini saya bertemu seseorang. Awalnya, saya tidak sengaja bersitatap dengan orang itu saat dia sedang lewat di hadapanku yang sedang galau karena dagangan yang tak kunjung berkurang. Dalam hati saya merasa pernah melihatnya entah di mana.

Di waktu yang sepersekian detik itu saya sedikit terpana tapi kemudian saya cepat-cepat mengalihkan pandangan saya ke arah lain. Karena sepertinya dia pun juga sedang memperhatikan saya lekat-lekat. (Tidak bermaksud ke GR-an yah tapi faktanya memang begitu).

Setelah dia berlalu, saya pun tidak terlalu memikirkannya. Meski sempat terbersit dalam benak saya kalau orang itu terasa familiar.

Tapi kemudian, dia kembali menghampiri saya. Lalu menanyakan tentang diri saya. Katanya dia adalah temannya temanku. Kami berbincang sejenak kupikir cuma sekadar basa basi biasa. Setelah itu dia berlalu dan sayapun hanya menganggap hal itu seperti angin lewat belaka.

Hingga di saat saya hendak tidur saya kepikiran mengenai kejadian itu. Rasa penasaran saya muncul. Mengapa orang ini bisa mengenali saya? Saya pun membuka akun facebook dan mencari nama akun teman yang dimaksud orang itu tadi. Setelah menelusuri  akun teman saya, saya pun menemukan akun orang itu yang ternyata juga berteman dengan saya di facebook.

Pantas saja saya berasa familiar. Orang saya sering ngeliat orang ini di facebook. Cuma yang saya tidak sangka dia mau meyapa saya lebih dulu. 

Bukan hal yang waao banget sih, hanya saja saya tidak pernah berpikir akan bertemu secara langsung dengan orang itu ditambah momentnya yang akward banget lagi. Hahaha

Kita tidak pernah tahu besok atau lusa akan bertemu dengan siapa dan di mana. Tapi pasti ada suatu cerita yang tertinggal dalam memori meskipun itu hanya hal yang biasa. Bagiku, bukan hanya sesuatu yang spesial saja yang mesti diingat. Hal yang biasapun perlu diingat jika hal itu memang membekas dalam ingatan.

Monday, 7 May 2018

My day

Hari ini ulang tahunku. 7 mey 2018. Sekarang umurku genap 22 tahun. Aku senang, seharian tadi hujan turun. Sehingga aku bisa tidur siang dengan nyenyak.


Tadi aku buat kue, rencananya untuk menghadiahi diri sendiri. Tapi kuenya belum kumakan. Karena bentuknya masih berantakan dan belum dihias.


Alhamdulillah, usia bertambah meski jatah waktu kehidupan berkurang. Terimakasih Allah, atas segala nikmat yang engkau berikan kepadaku hingga detik ini. Nikmat sehat dan udara yang masih bisa aku hirup sesungguhnya adalah kenikmatan yang luar biasa.


Aku tak perlu kado atau hadiah. Cukup kirimkan doa terbaik untukku. Atau kalau tidak bantu aminkan segala doa dan harapanku saja.


Untuk diriku, ayo berjuang meraih mimpi dan apa yang kita cita-citakan. Meski lelah karena kegagalan tapi jangan menyerah dan terus berusaha. Yakin suatu hari ada cahaya terang yang akan menyambut di ujung jalan.


Juga pertemuan denganmu, yang tak pernah bosan kutunggu. Cepatlah datang dan mari merayakan setiap hari bersama-sama.

~WS

Friday, 4 May 2018

Mimpi


Semalam, saat saya sedang asyik bermain instagram, saya menemukan sebuah akun yang sangat inspiratif. Di akun itu, sang empunya banyak bercerita mengenai kisah perjalanan hidupnya bersama istrinya, yang sangat inspiratif saat menuntut ilmu di negeri Ratu Elizabet II.

Membaca kisah yang sangat inspiratif dari sepasang suami istri tersebut membuat dada saya bergelora. Membangkitkan kembali mimpi-mimpi saya untuk melanjutkan pendidikan, entah itu di dalam negeri ataupun di luar negeri. saya sangat tertarik dengan kata-katanya yaitu kisah perjalanan hidupnya itu berawal dari mimpi. Kita tidak boleh takut bermimpi, tapi mimpi yang tidak diusahakan hanya akan menjadi angan-angan semata. Kira-kira seperti itu. Tentang kisah orang yang saya maksud, mungkin akan saya ceritakan lebih lanjut di lain waku setelah saya membaca bukunya.

Saya sangat ingin mengusahakan untuk mewujudkan mimpi-mimpiku. Namun, saya masih banyak memiliki kekurangan dan banyak hal yang harus saya persiapkan jika ingin mewujudkannya. Terkadang, saya ingin menyerah saja tapi saya masih ingin berbaik sangka kepada Allah SWT. dan saya masih ingin mengusahakan apa yang saya cita-citakan.

Apalagi, setelah membaca kisah-kisah orang yang sukses dan bisa menggapai impiannya meski beragam rintangan yang harus dilalui. Kalau mereka bisa kenapa saya tidak. Saya hanya harus bersabar, tidak menyerah dan terus berusaha. Karena mereka yang hari ini sukses, juga pernah merasakan kegagalan.  

Monday, 23 April 2018

Hujan

Hujan. Aku suka hujan.
Hujan itu, begitu kuat yah?
Karena dia berasal dari ketinggian yang jaraknya begitu jauh dari permukaan bumi, sebelum mendarat dan jatuh di mana saja dan menimpa apa saja.

Di atas genting, di dedaunan, di atas rumput, di aspal, di tanah yang gersang, di kendaraan yang tengah melintas di jalanan.  Atau di atas payung merah jambu bergambar hello kitty, milik seorang gadis kecil yang lucu dan sedang berlari-lari kecil menuju sekolahnya. Setelah reda, ia akan meninggalkan aroma basah yang begitu melekat. Juga udara lembab yang membuat siapa saja merasa enggan menanggalkan selimut tebalnya.

Waktu kecil, aku begitu suka bermain hujan. Berlarian ke sana kemari. Menikmati air hujan yang jatuh di atas kepalaku rasanya begitu menyenangkan.

Kadang-kadang untuk dapat menikmati hujan di luar, aku harus memelas dan memohon-mohon kepada mama agar diizinkan. Akupun akan sangat kecewa bila tak mendapat izin untuk bermain dan mandi hujan. Pernah juga aku sembunyi-sembunyi keluar rumah dan bermain hujan saat mama tengah tertidur pulas.

Aaahh ingin sekali mengulang semuanya. Merasakan bagaimana dinginya bulir-bulir air yang jatuh dari langit menerpa wajahku dan membasahi seluruh tubuhku yang mungil. Serunya bermain dan berkejaran di tangah derasnya rinai hujan bersama teman-teman. Berteriak sekencang-kencangnya tanpa takut di protes oleh orang dewasa, karena toh suara hujan mengalahkan nyaringnya teriakanku.

Meski setelah puas bermain dan mandi hujan seluruh tubuhku akan menggigil kedinganan dan aku akan langsung meringkuk di balik selimut. Lalu kemudian tertidur lelap, ditemani suara hujan yang belum juga reda.

Oohh hujan.... kau memberiku kenangan masa kecil yang sangat menyenangkan.

Tapi, kini aku tak bisa dengan mudah menikmati perasaan menyenangkan ketika hujan turun seperti saat kanak-kanak dulu. Karena tiap kali terkena hujan, aku bisa langsung terserang flu dan demam hingga berhari-hari. Kata dokter, aku alergi cuaca.

Uuhhh menyebalkan bukan? Di saat kau tak dapat menikmati kesukaanmu dengan leluasa. Seperti saat ini, fluku masih saja tak kunjung sembuh. Padahal sudah hampir seminggu dan hanya karena aku habis terkena gerimis dan tak sampai basah kuyup.

Tapi, aku masih menyukai hujan. Biarpun terkadang hujan yang turun terus menerus malah menghambat aktivitasku. Aku juga terkadang menggerutu dan mengutuk kenapa hujan harus turun di saat yang tidak tepat. Tapi, itu tidak tepat dalam pandanganku bukan? Dan hujan turun atas kehendak sang pencipta. Memangnya siapa aku yang berani menentang kehendak-Nya?

Meski tak bisa menikmati hujan seperti dulu lagi. Tapi aku masih bisa menikmatinya dengan cara yang lain. Seperti mendengar suara hujan, atau memandang air yang jatuh ketika hujan. Dan rasanya tetap sama. Menenangkan. Aku suka.

Lalu, ketika hujan turun di tengah malam seperti ini, membuatku ingin cepat-cepat terlelap. Kemudian bermimpi indah. Di mana saat hujan ada kamu dan aku. Yang sedang berlarian, bercanda tawa di tengah gerimis yang romantis. 

Aahh... sekarang malam sudah semakin larut. Aku harus segera tidur. Banyak rencana yang sudah kususun untuk esok hari.

Hujan, temani aku malam ini. Jangan reda terlalu cepat. Besok pagi saja kalau kau ingin berhenti.

Untuk kamu, kuucapkan selamat tidur. Kudoakan, esok harimu menyenangkan. Salam rindu dariku, di sebuah kota yang tengah di guyur hujan.


~WS

Sunday, 22 April 2018

RA. Kartini dan Kekuatan Sebuah Tulisan


Dua Hari ini, media sosial ramai dengan pembicaraan mengenai perayaan hari Kartini. Banyak orang mengunggah foto mereka yang sedang mengenakan kebaya, batik ataupun baju daerah lainnya di akun media sosial mereka sebagai bentuk perayaan Hari Kartini. Disertai juga dengan beragam caption ucapan selamat Hari Kartini atau ada pula yang menuliskan petikan kata-kata Kartini.  Banyak pula event dan kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka merayakan hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April kemarin dan sudah menjadi turinitas masyarakat Indonesia tiap tahunnya.

Selain itu, berita-berita di media sosial maupun di media konvesional juga dipenuhi perihal Hari Kartini. Bukan hanya mengenai semaraknya perayaan tersebut, tetapi juga banyak yang mengulas tentang fakta sejarah kehidupan RA. Kartini. Hingga menjadi pahlawan dan pejuang emansipasi wanita seperti yang kita kenal saat ini.

Raden Ajeng Kartini/ Raden Ayu Kartini atau lebih dikenal dengan RA. Kartini, lahir di Jepara, 21 April 1879 dan meninggal pada 17 September 1904 di kota Rembang, empat hari setelah melahirkan putranya. Beliau ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional oleh Presiden Soekarno pada tanggal 2 Mei 1964 dan Presiden Soekarno juga menetapkan hari lahir Kartini  yaitu tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai hari Kartini (Sumber: https//id.m.ikipedia.org/wiki/kartini). Itulah sedikit gambaran mengenai sosok RA. Kartini.

Di sini saya tidak ingin mengulas lebih jauh mengenai bagaimana kehidupan RA. Kartini dan perjuangan yang beliau lakukan. Tapi saya tertarik mengulas fenomena yang terjadi di media sosial dalam beberapa hari terakhir ini.  

Di balik semaraknya perayaan Hari Kartini di berbagai daerah di seluruh Indonesia, yang dapat disaksikan lewat berbagai media massa ataupun media sosial, saya menemukan masih banyak komentar-komentar netizen yang mempertanyakan dan memperdebatkan perihal RA. Kartini. Kenapa harus RA. Kartini yang diangkat menjadi pahlawan dan dikenal sebagai pejuang emansipasi wanita? Apa yang telah beliau lakukan sehingga hari lahirnya menjadi hari besar yang mesti dirayakan tiap tahun di Negara ini? Padahal masih banyak pejuang wanita lainnya yang menurut mereka lebih layak dibanding RA. Kartini. Sebut saja Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, Martha Christina Tiahahu, dan lain sebagainya yang perannya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia tak perlu diragukan lagi.

Lalu kenapa hanya nama RA. Kartini yang dikenal luas? Banyak netizen yang mendebatkan hal ini tanpa mencari tahu cerita dan fakta sejarah yang sebenarnya. Bahkan sampai menyerempet masalah sara. Saya pun belum membaca secara detail mengenai sejarah RA. Kartini ataupun tulisan-tulisannya. Saya hanya membaca ulasan-ulasan mengenai RA. Kartini di internet ataupun dari buku sejarah semasa sekolah dulu.

Tapi, ada satu hal yang menjadi pembeda antara RA. Kartini dengan pejuang wanita lainnya di Indonesia. Di mana, pejuang wanita lainnya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan turun langsung ke medan perang mempertaruhkan nyawa, harta dan segala yang dimiliki. Berbeda dengan Ibu Kartini, beliau meninggalkan suatu karya besar yang di kemudian hari menginspirasi dan membuka pikiran banyak orang-orang Eropa khususnya di Belanda mengenai wanita pribumi pada zaman Hindia Belanda.

Karya tersebut berupa tulisan-tulisan Ibu Kartini dalam surat yang beliau kirimkan kepada teman-temannya di Belanda, yang kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku tersebut berisi mengenai berbagai pandangan dan pemikiran-pemikran RA. Kartini yang sangat maju dan luas pada zaman itu sehingga banyak yang mengatakan pemikiran RA. Kartini melampaui zamannya.

Di zaman kolonial yang masih sangat menjunjung tinggi sistem patriarki khususnya di tanah Jawa. Yang mana perempuan masih terkungkung dalam peraturan kebudayaan yang banyak memberikan batasan-batasan untuk bergerak bagi perempuan.

Karena itulah, RA. Kartini dikenal sebagai pejuang emansipasi wanita. Tulisan dan pemikirannya yang modern menjadi inspirasi banyak orang untuk memperjuangkan keadilan, kesetaraan gender ataupun  persamaan hak antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai hal. Salah satunya dalam hal pendidikan, di mana pada saat itu hanya laki-laki yang bisa mengecap pendidikan tinggi, itupun bagi mereka yang berstatus bangsawan ataupun petinggi-petinggi dari kalangan atas pribumi.

Kartini, melalui pemikiran yang ditulisnya percaya bahwa hanya dengan pendidikan, perempuan bisa keluar dari kebodohan dan kungkungan budaya. Pendidikanlah pintu bagi bangsa Indonesia bisa maju dalam memperjuangkan kemerdekaan dan melepaskan diri dari jajahan Belanda.

RA. Kartini, memang tidak melawan dengan mengangkat senjata. Tapi, dia melawan dengan pemikiran dan tulisannya yang kemudian mengilhami perubahan pandangan masyarakat pada saat itu terhadap kedudukan perempuan dan masalah pendidikan.

Tentunya kita juga tidak boleh melupakan jasa dari pejuang wanita lainnya, karena merekapun mempunyai sumbangsih yang besar untuk kemerdekaan Indonesia dengan cara yang berbeda. Hal yang patut diingat RA. Kartini dan pejuang wanita lainnya sama-sama berjuang dan memiliki cita-cita yang luhur untuk kemerdekaan Indonseia.

Hanya saja, RA. Kartini memang hidup dan berjuang dalam waktu singkat. Tapi, tulisannya tetap abadi. Kita yang hidup saat ini, bahkan anak cucu kita kelak juga masih akan mengenal RA. Kartini karena tulisannya. Itulah kekuatan sebuah tulisan. Seperti pemikiran Kartini yang melampaui zaman, tulisan juga begitu, dapat melampaui zaman bahkan hingga ratusan tahun berlalu.

Lantas, megapa kita yang sudah merasakan nikmatnya merdeka ini harus dan masih saja sibuk menperdebatkan hal yang tidak semestinya diperdebatkan? Mempertanyakan suatu hal tanpa melakukan riset mendalam. Yang pada akhirnya menjadi debat kusir dengan sesama saudara sebangsa kita sendiri.

Bukannya memanfaatkan kemerdekaan dengan berkarya, belajar, dan mengabdikan diri untuk kemajuan bangsa seperti yang dicita-citakan para pahlawan dan leluhur kita. Sebagai rasa terimakasih karena perjuangan dan pengorbanan merekalah, kita dapat mengecap merdeka, pendidikan dan hidup yang lebih baik.

Karena tanpa kita sadari, di saat kita tengah sibuk saling berdebat mengenai hal yang tak perlu lagi diperdebatkan, bangsa lain sudah semakin maju dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuaannya. Semementara kita semakin tertinggal jauh dan terbelakang. Hanya menjadi konsumen dari kemajuan Negara lain.

Lalu apa bedanya dengan zaman dulu? Toh kita masih sama-sama terjajah. Dulu kita dijajah dalam bentuk penguasaan wilayah dan sekarang kita dijajah dengan produk-produk luar dan budaya-budaya luar yang semakin menggerus budaya ketimuran kita dan merusak masa depan generasi penerus bangsa ini.

Ayolah kawan, berhenti berdebat dan saling menjatuhkan satu sama lain. Karena kita ini saudara, sebangsa dan setanah air. Belajar, berkaya dan melakukan yang terbaik untuk bangsa ini lebih baik dan lebih bermanfaat untuk memajukan negara kita. Agar tak ada kata sia-sia dari perjuangan para pendahulu kita.

Thursday, 19 April 2018

Hidup, Problema dan Sebuah Keputusan.


Aku memandang perempuan yang berada di hadapanku. Tergambar jelas dari raut wajahnya yang sendu dia sedang frustasi. Sejak dua jam yang lalu dia mencurahkan isi hatinya kepadaku.

Kesabarannya telah habis menghadapi laki-laki itu yang adalah suaminya. Dia sudah tidak mampu lagi menahan amarah, sakit hati, kecewa, dan semua unek-unek yang selama ini dia pendam sendiri. Dadanya sesak. Sudah terlalu banyak dan terlalu lama dia menahan semuanya sendiri. Dan suaminya seolah tak perduli.

Sebenarnya, dia tak menuntut banyak. Dia hanya ingin suaminya mencari pekerjaan yang lebih baik dan itu adalah tanggung jawabnya sebagai seorang suami yang harus menfkahi istri dan anak-anaknya.

Perempuan itu sudah lelah memberikan pengertian kepada suaminya dengan cara baik-baik. Dia pun sudah berusaha membantu meringankan beban suaminya dengan menanam berbagai macam sayur mayur. Tapi, lagi-lagi yang membuatnya kecewa tak ada itikad baik dari suaminya untuk membantu ataupun berubah.

Dia juga tak mungkin mengambil keputusan untuk meninggalkan laki-laki itu. Ini bukan masalah terlalu mencinta, namun dia mengingat ada tiga malaikat kecil yang membutuhkan kasih sayang orang tuanya. Dia tidak ingin egois dan membuat anak-anaknya mengalami hal yang sama seperti dirinya karena perpisahan orang tua.

Aku benar-benar mengerti dengan apa yang dia rasakan. Karena itu, aku tak bisa menyalahkannya atas apa yang sudah dia lakukan. Aku hanya ingin menjadi pendengar yang baik untuknya saat ini.

Saat melihat air matanya yang jatuh ketika menceritakan semuanya, ingin sekali aku memeluknya. Memberinya kekuatan dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Tapi aku tak melakukannya. Kami memang tak sedekat itu dan tak terbiasa mengungkapkan rasa sayang dengan pelukan dan semacamnya. Tapi itu bukan berarti kami tak saling menyayangi.

Aku menyayanginya, karena itu sering kali aku marah karena kecewa pada apa yang dia lakukan. Aku ingin sekali melihatnya bahagia dan aku tak melihat ada kebahagiaan yang dia rasakan sejak bersama dengan suaminya. Aku lebih menyarankan dia untuk pergi saja dan melepaskan laki-laki itu.

Tapi, aku tahu tak semudah itu dan kali ini, aku ingin berusaha lebih memahami dirinya. Kehidupan yang pernah dia jalani jauh lebih sulit dan keras dibanding dengan kehidupanku. Dialah yang berhak menentukan pilihan dalam hidupnya dan dia memilih untuk bertahan. Dengan konsekuensi menahan semuanya sendiri. Tak ada yang bisa kulakukan selain mendengar dan memberinya dukungan serta doa yang terbaik untuk kehidupannya.

Setiap kita memang diberi jalan hidup yang berbeda. Meski sedarah, apa yang kita lalui tak akan mungkin sama dengan kehidupan saudara kita apalagi orang lain. Kita juga tak bisa menghakimi hidup seseorang begitu saja tanpa tahu asal dan musababnya.

Kita sama-sama manusia biasa yang takdirnya sudah tertulis bahkan sebelum kita lahir di dunia ini. Tapi, kita juga diberi kesempatan untuk menentukan pilihan dan memutuskan kehidupan seperti apa yang akan kita jalani sesuai dengan apa yang sudah kita usahakan.

Begitupun dengan pernikahan dan pasangan hidup. Kita diberi pilihan dan dipertemukan dengan beberapa orang. Tapi kitalah yang memutuskan pada siapa akan melabuhkan hati. Kehidupan pernikahan itu tak melulu indah. Ada banyak badai yang akan datang tiba-tiba tanpa aba-aba sebelumnya.

Pernikahan bukan sekadar menghalalkan yang haram. Tapi bagaimana menyatukan dua manusia yang berbeda. Dua kepala yang pikirannya tak mungkin sama. Karena itu perlu adanya tujuan yang satu dan kesamaan prinsip. Tidak hanya mengandalkan cinta buta.

Laki-laki harus tahu betul dan memahami tugas dan tanggung jawabnya sebagai imam dan kepala rumah tangga. Jangan hanya mementingkan ego dan kesenangannya sendiri. karena dia harus mendahulukan kebahagiaan istri dan anak-anaknya baru kemudian dirnya sendiri.

Perempuanpun sama. Penyetaraan gender memang perlu, tapi jangan lupa pada kodratnya sebagi perempuan yang harus menomorsatukan keluarga.

Yah kalau dipikirkan lagi, mana ada orang yang mau mengalami pernikahan dan kisah hidup yang tragis. Semuanya juga pasti memimpikan kebahagiaan dan kehidupan yang indah. Tapi apa mau dikata kalau kehendak yang maha kuasa berbeda dari yang kita harapkan.

Akupun sama, sebagai seorang perempuan aku juga mengharapkan kelak menjalani kehidupan pernikahan yang bahagia dan harmonis. Meski kita tak pernah bisa memprediksi masa depan, tapi tak ada salahnya memimpikan hal-hal baik yang akan selalu disemogakan dan diusahakan.

Kalau orang-orang di luar sana mengatakan hidup itu adalah pilihan. Menurutku, Hidup adalah keputusan. Pilihan itu kita yang memutuskan. Jadi, bukan masalah pilihan apa yang kita pilih. Tapi, tepatkah keputusan yang kita ambil dalam memilih apa yang akan kita jalani.

Pusing yah? Sama, aku juga pusing. Tepatnya bingung mau nulis apa lagi dan kayanya semakin tidak nyambung hahaha. Ya sudah sampai sini saja dari pada semakin tidak jelas.


Tuesday, 17 April 2018

Buku Bersampul Ungu


Pada saat mengikuti pendidikan karakter, di awal masuk kuliah dulu. Saya banyak mendapatkan motivasi dalam menjalani aktivitas sebagai mahasiswa. Salah satunya, waktu itu kami diajarkan membuat perencanaan ataupun cita-cita yang ingin kami capai ke depannya dan menuliskannya.

Menulis impian, cita-cita, atau apapun yang kita inginkan di kertas, di buku atau di mana pun ini juga saya dapatkan dari video motivasi yang pernah saya tonton. Di mana dalam video itu ada seseorang yang menuliskan keinginan dan cita-citanya di selembar kertas. Yang beberapa tahun kemudian, hampir semua keinginan yang ditulisnya dalam lembaran tersebut menjadi kenyataan.

Hal ini pun saya lakukan walau tidak detail dan hanya berupa poin-poin. Karena saya kadang bingung sendiri saat harus menyusun hal-hal seperti ini. Kadang juga, meskipun saya telah menuliskan akan melakukan suatu kegiatan di hari tertentu, tapi pada akhirnya tidak jadi saya lakukan karena satu dan lain hal. Kebanyakan sih karena malas hehe.

Tapi, tanpa saya sadari ada beberapa keinginan yang pernah saya tulis dan Alhamdulillah menjadi kenyataan. Saya baru menyadarinya beberapa jam yang lalu.

Ceritanya, saya ingin menuliskan beberapa hal penting di buku. Saya pun mengambil buku bersampul ungu di meja belajar saya. Dalam buku itu terdapat beberapa catan-catatan saya semasa kuliah. Saya melihat masih banyak lembaran kosong di buku itu. Tanpa sengaja saya membuka lembaran bagian tengah dari buku yang hampir dua tahun ini tidak pernah saya sentuh.

Saya menemukan tulisan berupa point-point keinginan yang saya tulis yang di atasnya saya beri judul My Dream. Kemudian saya membaca point demi point yang tertulis di halaman itu. Lalu saya membuka lembaran-lembaran selanjutnya yang berisi planning  saya di tahun 2016. Saya pun baru mengingat bahwa dulu saya berniat menuliskan hal-hal yang harus saya lakukan di tahun itu perbulannya. Tapi, hanya ada bulan-bulan tertentu yang terisi.

Saya tertegun, kemudian membaca ulang semuanya dan waoo beberapa hal yang pernah saya tulis memang terwujud. Bahkan ada keinginan yang saya tulis benar-benar terwujud seperti pada waktu yang saya harapkan.

Apakah ini bisa disebut sebuah keajaiban? Mungkin iya. Karena Allah maha mendengar dan maha mengetahui keinginan hambanya. Tak ada yang tak mungkin jika Allah sudah berkehendak. Selama kita pun mau berusaha.

Dari beberapa hal yang saya tulis, memang masih banyak yang belum terwujud. Tapi itu juga karena saya yang kurang mengusahakan agar dapat mencapai hal tersebut. Begitupun dengan keinginan saya yang menjadi nyata, karena saya benar-benar berusaha sekuat tenaga dalam meraihnya.

Yah memang benar Allah tidak akan mengubah nasib kita kalau kita sendiri tidak mengubahnya. Tidak mungkin keinginan kita bisa terkabul, sedang kita hanya berdiam diri dan mengharap pada keajaiban alam.

Begitupun ketika saya ingin belajar mengendarai motor. Padahal dulu rasanya saya sangat mustahil akan bisa. Karena bersepeda pun saya tak tahu. Tapi, dengan usaha yang saya lakukan dengan pantang menyerah. Meski harus jatuh bangun sampai berdarah-darah. Pada akhirnya saya bisa.

Sebenarnya, segala sesuatunya itu bukan karena kita tidak bisa atau tidak mampu. Tapi bagaimana usaha dan kerja keras kita untuk membalik suatu kemustahilan menjadi sebaliknya. Menolak menyerah dan terus berusaha serta berdoa. Lalu selebihnya, berserah diri kepada Allah yang akan menentukan hasil atas apa yang sudah kita usahakan semaksimal mungkin.

Tuesday, 10 April 2018

Berbeda Tapi Sama


Saya baru saja pulang dari rumah Iin, sahabatku. Rumahnya hanya berjarak sepelemparan batu dengan rumahku. Meskipun tetanggaan kami sangat jarang bertemu. Tapi sekalinya bertemu pasti jadi lupa waktu.

Tadinya saya ke rumahnya hanya untuk memprint.Tapi karena printer-ya sedang kehabisan tinta urusan memprint jadi berganti dengan perbincangan panjang yang kesimpulannya kembali pada selera. Nah loh?

Dari sekian hal yang membuat saya bisa bersahabat dengan Iin salah satunya karena kami memiliki banyak kesamaan dalam beberapa hal. Mungkin itulah sebabnya kami merasa nyaman satu sama lain. Tapi bukan berarti kami tak memiliki perbedaan. Justru, perbedaan kami mungkin lebih banyak daripada kesamaan yang kami miliki.

Salah satunya mengenai selera. Selera masing-masing orang itu berbeda. Kita tidak mungkin memaksakan apa yang kita sukai  harus disukai oleh orang lain. Tak perlu juga memandang aneh terhadap orang yang memiliki selera berbeda dengan kita.

Kalau dalam hal makanan, mungkin saya dan Iin memiliki selera yang sama. Kami sama-sama penyuka kecap. Makanan apapun, tanpa kecap rasanya tak akan nikmat. Kami juga sama-sama penyuka makanan pedas. Tapi perbedaan kami terletak pada level kepedasan suatu makanan. Semakin pedas suatu makanan, semakin dia suka. Berbeda dengan saya yang hanya suka makanan pedas sebatas ada rasa pedasnya saja.

Kembali pada pertemuan saya dan Iin tadi. Awalnya, kami berbincang hanya seputar masalah pribadi. Dia dengan segala kendalanya dalam menyelesaikan tugas akhir yang tak kunjung kelar, sedang saya yang masih berkutat dalam usaha mencari pekerjaan yang tak juga menemukan titik temu.

Kemudian, tercetuslah ide untuk membuka suatu usaha yang mungkin bisa kami lakukan bersama. Tapi perbincangan itu berakhir tanpa kesimpulan dan hanya menjadi sekadar wacana. Lalu, entah bagaimana perbincangan kami berganti pembahasan mengenai dunia tulis menulis dan seputar bacaan. Hemm kami memang memiliki hobi yang sama yaitu membaca dan mulai mecoba menulis sedikit-sedikit.

Iin bercerita mengenai kekagumannya pada penulis-penulis di Wattpad yang karya-karyanya sudah banyak diterbitkan oleh peneribit-penerbit ternama dan juga memiliki ribuan pembaca. Dia juga sangat menyukai karya-karya dari penulis luar yang bergendre romance yang banyak mengandung adegan dewasa. Menurutnya novel romantis yang best seller kebanyakan seperti itu.

Tapi saya tidak setuju. Karena dari daftar bacaanku yang meskipun kebanyakan dari penulis dalam negeri banyak juga kok novel best seller tanpa adegan-adegan dewasa seperti kissing. Contohnya, novel empat musimnya Ilana Tan. Menurutku, cerita romantis tidak harus ada adegan dewasanya. Tapi, novel yang banyak adegan dewasanya pun bukan tidak baik saya hanya lebih menyukai romantisme suatu cerita dari segi alur dan tata bahasa yang dimainkan oleh penulis.

Apa yang kita baca memang bisa membentuk cara pandang kita terhadap sesuatu. Dalam hal ini saya dan Iin memang sama-sama gemar membaca. Tapi, kami memiliki selera bacaan yang berbeda. Yang akhirnya membentuk penilaian yang berbeda terhadap suatu tulisan.

Kalau saya, saya tidak membatasi diri saya dalam membaca. Saya suka macam-macam gendre. Entah itu drama, romatis, fantasi, islami, ataupun yang memberi motivasi kehidupan. Tapi, saya paling suka membaca buku atau novel yang tata bahasanya baku dan puitis. Lain lagi dengan Iin, meskipun dia juga menyukai macam-macam gendre tapi dia kurang suka membaca novel yang bahasanya terlalu baku.  

Yaa, kesimpulannya terletak pada selera kita masing-masing. Karena meskipun ada perbedaan, kami juga tetap sepakat pada beberapa hal. Seperti, membaca novel lebih menarik dari pada menonton film adaptasinya, misalnya. Kami sama-sama menyetujui pernyataan ini.

Bukankah perbedaan itu, yang menjadikan dunia ini indah? Karena adanya perbedaanlah kita menjadi sama. Sama-sama manusia. Sama-sama punya selera. Sama-sama punya rasa. Sama-sama berbeda.