Tuesday, 30 July 2019

Senyummu

Waktu melambat
Langkah terhenti
Kita membisu

Lagi, aku kehilangan kata
Padahal aku ingin lebih lama bercakap denganmu, 
mengurai ceritamu, melihat gelak tawamu, menatap matamu, 
dan senyummu yang sudah menjadi candu.

Namun kau yang selalu enggan.
Ingin cepat bergegas pergi
dan mengacuhkan segala.

dari perkataanmu 

Aku  sudah mengerti...
memang tak selayaknya ada
rasa di antara
Sebab tingkah dan kata
apalagi hati kadang tak sejalan.

Aku tahu betul 
memandangmu seperti ini saja sudah tak benar 
apalagi menyimpan harap.

Kau sudah jelas membuat jarak 
dan kita pun tahu,
yang nyata hanyalah ketidakmungkinan.

Tapi sekali lagi,
apa dayaku yang tak bisa berhenti mengagumi senyummu?

Walau pada akhirnya
aku akan memilih untuk berhenti,
biarkan aku kali ini saja
melihat senyummu

Biar kusimpan dalam ingatan
sebagai senyum termanis
yang tak seharusnya
pernah menjadi bagian dari ceritaku.



24-30 Juli 2019
~WS

Tentang Senja & Pagi

Menyatakan cinta nggak sereceh itu,
perlu prinsip, idealisme,  dan tanggung jawab.
-AlffyRev-

Hari ini saya memutuskan untuk meliburkan diri. Tidak ke kantor setelah meminta izin ke atasan tentunya, karena lututku yang terluka setelah jatuh dari motor sabtu kemarin sepulang jalan-jalan dari Moramo. Karena saya menganggap enteng luka tersebut, akhirnya infeksi dan menjadi cukup parah sakitnya nyut-nyut kalau jalan. Habis gimana, Cuma luka tergores begitu paling juga besok sembuh pikirku, sudah biasa terluka sih uppss.

Sekali-sekali tidak papakan yah mengistirahatkan badan dan pikiran. Hari ini saya benar-benar beristirahat. Sejak pagi, setelah mengkompres lukaku dengan Cairan NACL kerjaku Cuma tiduran dan main HP, makan, lalu tidur lagi.

Setelah lelah bolak-balik buka Whatsaap, Facebook, lalu Instagram, yang sudah sangat membosankan, sayapun memutuskan untuk membuka Youtube, lihat-lihat video yang lagi trending dan apa saja yang menarik. Lalu video musik Senja & Pagi muncul di berandaku. Mengingatkanku pada judul buku yang pernah saya lihat di Instagram. Saya menontonnya dan sukses dibuat baper dengan lagu dan cerita MV-nya.

Sebenarnya sudah dari beberapa bulan lalu saya melihat buku Senja & Pagi berseliweran di akun-akun penjual buku yang saya ikuti di Instagram. Sebagai penyuka senja saya cukup tertarik melihat cover dan judulnya . Tapi entah kenapa belum timbul keinginan saya untuk mencari tahu lebih mengenai buku tersebut.

Saya lalu men-stalking Instagram Alffy Rev dan istrinya dan semakin baperlah saya dengan cerita mereka. Ternyata buku Senja & Pagi yang selama ini tak pernah saya lirik adalah tentang kisah mereka. Alffy rev dan  Linka Angelia adalah dua sosok anak muda yang inspiratif. Kisah mereka bukan tentang percintaan menye-menye tetapi tentang penyatuan dua insan yang memiliki banyak perbedaan tapi disatukan dengan mimpi-mimpi dan prinsip yang sama. Meskipun saya baru mengenal mereka dan saya belum menyelami kisah mereka secara utuh tapi saya merasa cinta itu memang seharusnya seperti itu.

Tidak mudah memang untuk menemukan sosok yang benar-benar cocok dan menyatu dengan diri kita. Seseorang yang sejiwa, memiliki mimpi,  cita-cita, prinsip dan misi hidup yang sama dengan kita. Yah rasanya hampir mustahil, sosok seperti itu cuma fiksi. Sayapun berpikiran begitu tapi bukan tidak mungkin ada kan? Kita hanya belum bertemu dengan dia.

Karena itu saya memiliki sosok fiksi yang saya juluki “Matahari”. Seseorang yang ketika bersamanya diri yang biasa bisa menjadi luar biasa. Seseorang yang dengannya membuat diri nyaman, mau bercerita apa saja, mau berbagi mimpi, mau mengerti dan menggapai mimpi bersama. Kalau kata Alffi Rev dan Linka Angelia mereka adalah Partner in crime, pun seperti kata penulis Ahmad Fuadi yang mengibaratkan dia dan istrinya adalah  The dynamic duo.

Cinta memang harusnya begitukan penuh filosofis. Cinta memang sederhana, tapi bukan semata perkara perasaan. Lebih dari itu. Cinta harusnya membuat kita menjadi versi terbaik diri kita. Bukan mengubah diri menjadi apa yang dia inginkan tapi bagaimana kita sama-sama belajar menjadi apa adanya dan menjadi lebih baik.

Kita tak perlu khawatir dan tergesa, sebab orang yang tepat akan datang di waktu yang tepat. Bertemu dan menyukai seseorang itu wajar. Tapi bila dia tak memiliki rasa yang sama apalagi pandangan hidup yang sudah berbeda sejak awal, sudah pasti bukan dia yang kita cari. Jangan resah dan kecewa, karena dia yang memang ditakdirkan Tuhan untukmu akan datang di waktu dan dengan caranya sendiri.


~WS

Sunday, 21 July 2019

Manusia Biasa


Aku hanyalah manusia biasa
Bisa merasakan sakit dan bahagia
Izinkan ku bicara
Agar kau juga dapat mengerti

Lagu terbaru milik Judika mengalun lembut. Lagu yang sangat romantis dan lagi ngehits saat ini. Aku juga menyukainya dan sering kuputar di play list. Dan penggalan lagu di atas seolah mewakili perasaanku sekarang. Bukan, bukan karena aku sedang jatuh cinta, bukan juga karena aku sedang patah hati, hanya aku sedang kecewa pada waktu yang kadang bercandanya sungguh terlalu.

Aku juga adalah manusia biasa yang bisa merasa sakit, terluka dan juga bahagia. Aku ingin bicara tapi tak tahu pada siapa perihal masalah yang bertubi belakangan ini. Hanya isi di kepalaku yang tak berhenti mendebat dan kadang bikin frustasi.

Di saat aku coba mencari ketenangan eehh setelahnya masalah baru muncul lagi. Baru saja aku merasa sedikit bahagia karena melihat senja yang cantik, setelah pulang kenyataan mempertemukanku dengan amarah yang tak mau percaya pada kata.

Sebenarnya, aku juga bingung apa yang membuat aku berpikir terlalu keras seperti ini? Malah aku hanya menyiksa diri sendiri. Beratku semakin menyusut, pipiku semakin tirus, dan hatiku tak pernah tenang.  Aku tahu setiap orang memiliki masalahnya sendiri, hanya berbeda kadar dan beratnya. Aku tak perlu seolah menjadi manusia yang paling kasihan di muka bumi ini. Aku malah jauh lebih beruntung. Masih bisa bernapas dengan baik, pendengaran yang sempat terganggu dua minggu lalu juga sudah pulih, cuma sedikit nyeri di gusi yang sedang membengkak karena gigi bungsu yang baru mau tumbuh. Selebihnya aku tak kurang suatu apa. Kenapa aku tidak bersyukur dan hanya sibuk merutuki nasib yang sebenarnya baik-baik saja?

Akupun maunya begitu. Aku juga ingin bersikap masa bodo, cuek dan tak peduli pada apapun tapi aku bukan tipe orang yang seperti itu. Aaah dan aku malah bercerita tentang semuanya di sini. Padahal sebenarnya aku ingin menulis sesuatu yang menyenangkan saja. Tapi, kalau hanya hal-hal menyenangkan saja yang aku tulis, apa gunanya menulis? Sedang di saat begini, untuk bicara aku tak mampu dan menulislah caraku untuk setidaknya melepas sedikit beban.

Berbicara menulis, kadang aku merasa mungkin orang menganggapku alay karena terlalu sok puitis dan melankolis. Apalagi kalau meng-upload foto di media sosial yang kuberi caption sajak-sajak kecil. Tapi itu tak masalah, karena dengan begitu aku menjadi beda dengan orang kebanyakan. Beda itu bukan aib justru menjadi beda adalah sesuatu yang baik. Apalagi menulis yang tak semua orang bisa merangkai kata dengan baik. Bahkan akupun tidak semahir itu. Aku hanya mencoba untuk tetap ada tulisan yang aku buat. Meski hanya coretan-coretan kecil tentang apa yang kurasa dan tidak sebagus tulisan mereka yang memang adalah seorang penulis.

Kalau kata pak Aswan dosenku di kampus, “Menulis adalah merayakan hidup.” Lain lagi kata Rintik Sedu, baginya menulis itu menyembuhkan. Yah dengan menulis kita merayakan hari ini, entah itu baik atau buruk dengan menulis kita jadi menghargai hidup kita. Menulis itu memang menyembuhkan, karena sesak yang menghimpit di dada dan memenuhi rongga kepala itu butuh pelampiasan, butuh ruang untuk di keluarkan. Jika pada manusia tak memungkinkan, maka menulislah solusinya. Karena hanya dengan menulis kita bisa bercerita dengan bebas, tanpa takut tak didengarkan, tanpa takut dicemooh, tanpa perlu merasa kecewa bila diacuhkan.

Sebenarnya ada banyak hal yang ingin kuceritakan, tapi mungkin lain waktu saja. Dan untuk tulisan berikutnya, aku janji aku akan menulis tentang sesuatu yang menyenangkan.



~WS

Monday, 8 July 2019

Gara-gara Banana

Hujan kecil-kecil di luar. Aku terkantuk di depan komputer. Suara gerimis kecil samar kudengar. Pendengaranku terganggu. Hadiah dari pantai kemarin. Insiden kecil yang meninggalkan trauma.

Tak ada waktu buat mengeluh, bukan juga saatnya mencari kambing hitam. Karena apa yang terjadi memang sudah seperti seharusnya. Mungkin pantai hanya ingin memberi kenangan yang tak terlupa dan memberitahuku sesuatu. Aku tahu, ada yang tak semestinya berkembang, ada yang perlu dipadamkan, dan kemudiam dilupakan.

Kemarin cuaca sunggu cerah.
warna senja memikat membuat segala yang diterpa berwarna oranye, menemani perjalanan pulang. Tapi pantai bagiku benar-benar kelabu dan perjalanan sore itu sudah tidak menyenangkan lagi. Aku ingin segera sampai di rumah, istirahat lalu bangun di pagi hari seperti biasa. Berharap yang terjadi hanya sebatas mimpi. 

kini gelap sudah kembali bercumbu dengan dingin. Aku menggigil dan telingaku masih berdenging.
Doakan besok aku lekas sembuh....


~WS

Sunday, 30 June 2019

Malam Beranjak Larut

Malam beranjak larut.
Dingin mulai menusuk.
Aku meringkuk di balik selimut
dan kenangan kian berkecamuk.

Kala rasa sudah menguasaimu, merenggut logikamu, maka hatimu bukan lagi milikmu...

Kau tak lagi utuh.
Separuh dirimu telah tenggelam di kedalaman matanya.


~WS

Friday, 21 June 2019

Mungkin

Kumulai pagi ini dengan  semangat, senyumku terkembang kala beranjak dari rumah dan menemui pagi yang berkabut embun. Dingin. Tapi aku suka suasananya. Sepanjang jalan aku berkendara dengan santai. Nyaris sepanjang jalan aku menyetir hanya dengan satu tangan. Karena tangan yang lain sibuk memeluk diri sendiri.

Sementara menikmati embun yang begitu lembut terasa menerpa wajahku, fikiranku dipenuhi berbagai macam hal yang belakangan ini mengusik dan membuatku lelah. Bahkan terkadang menyesakkan dada.

Aku dipusingkan tentang banyak hal, tentang pertanyaan-pertanyaan yang masih tak menemui jawaban, tentang asa, dan juga bimbang yang tak usai.

Hari yang semestinya ceria ini, sama sekali tak kurasakan sepanjang hari. Dimulai ketika senam pagi di mana aku kesulitan mengikuti gerakannya dan akhirnya hanya berdiri kebingungan di lapangan. Keringatku bahkan tak ada yang mengucur biar setetespun. Lalu makan siang yang tidak bisa kuhabiskan, dan entah bagaimana aku sudah kembali ke rumah dengan tumpukan cucian piring yang menanti di dapur.

Bukan gerakan senamnya yang sulit, bukan makanannya yang tak enak, dan bukan cucian piring menumpuk yang kukeluhkan. Memang aku saja yang tak bergairah padahal sudah kusiapkan hati untuk berbahagia.

Lalu apa?

Mungkin aku rindu.

Rindu...
pada saat-saat itu.
Bukannya saat itu adalah saat -saat yang paling membahagiakan?

Saat tak ada harap yang kau ingin, saat tak ada rasa yang kau kecap, saat tak ada siapa yang ingin kau kenal, saat tak ada tentang yang kau tanya, saat tak ada kenangan yang ingin kau miliki, ketika tak ada sesal yang selalu kau ingkari, saat tak ada dan tanpa siapa-siapa. Tapi kau bisa tertawa lepas dengan hati yang lapang.

Terkadang ruang yang kosong memang sebaiknya tak terisi. Sebab hadir yang tiba-tiba, bukan untuk memenuhi. hanya membuat sesak dan jejak yang paling menyakitkan adalah menambah luka.

Harusnya memang tak pernah ada celah untuk membiarkannya tumbuh hingga berkecambah sebab rindu sudah biasa dengan jarak. Tapi aku harus sebelum ia bertunas dan menjadi duri yang munusuk diri sendiri.


~WS

Sunday, 26 May 2019

Kalut


Berapa lamakah waktu yang ideal yang dibutuhkan seseorang untuk melupakan? Bukan hanya melupakan manusianya tapi juga seluruh kenangan dan segala rasa yang masih tertinggal setelah cerita yang usai. Bahkan setelah tak ada lagi harap, tangis yang sudah mengering, tapi duka belum juga selesai. Bukan karena ingin kembali, justru karena tidak ingin mengulang cerita yang sama walau dengan orang yang baru.

Semakin mengenal seseorang semakin bertambah pula keraguan yang muncul.  Ingin merajut harapan yang baru tapi terlalu takut akan kecewa yang berulang. Kepalaku pening disesaki pertanyaan demi pertanyaan yang tak kunjung mendapat jawaban. Segala rasa yang bercampur begitu menyesakkan.

Tak apakah membuka hati dan mengizinkan seseorang mengisi ruang kosong yang begitu hampa di sana? Apakah setelah jatuh aku tidak akan tenggelam? Bisakah aku kembali berdiri jika pada akhirnya aku hanya menambah luka? Kalau seandainya aku menyimpan harap, akankah tak kutemui kecewa jika itu dia? Layakkah aku memiliki rasa itu? Bagaimana jika semua hanya semu?

Ya aku begitu takut akan perasaanku sendiri. Aku ragu dengan segala kemungkinan. Sebab aku pernah begitu mencinta, sebab percayaku sungguh terlalu, dan hatiku kuserahkan seluruh. Karena akhir yang berujung kecewa membuatku tak lagi ingin percaya pada segala yang berwujud semu. Jika harus mengulang kisah yang sama, aku lebih memilih untuk tak pernah memulai. Termasuk manaruh harap apalagi coba-coba menyimpan rasa.

Jadi tolong jangan menyiksaku dengan hadirmu. Jangan membuatku nyaman denganmu, jangan buat aku tergantung padamu. Jangan datang kalau hanya untuk pergi. Karena aku sudah susah payah untuk sampai di titik ini.

~WS

26 Mei 2019

Saturday, 30 March 2019

ALL ABOUT ORIENTASI CPNSD PEMERINTAH KOTA KENDARI 2018


Sebuah catatan untuk kenangan singkat yang sangat berkesan

            “Kita boleh membenci sesuatu, tapi jangan terkejut bila nanti Tuhan menjadikannya sebagai salah satu hal yang mengubah hidupmu…” – Budi Waluyo
           
Cukup lama, saya membiarkan segala ide dan keinginan untuk menulis, mengendap, ditelan ketermalasan. Aaah saya masih saja tak berubah yah… tapi, kali ini saya ingin bercerita panjang. Tentang awal dari sebuah perjalanan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Tentang menjadi apa yang tidak pernah saya inginkan. Namun, ketika berada di titik ini luar biasa sekali rasanya.
           
Dulu, difikaran saya menjadi Pegawai Negeri sipil (PNS) itu apa bagusnya sih? Berseragam, penuh aturan, dll. PNS sama sekali tidak pernah masuk dalam list cita-cita saya. Meski sebenarnya saya tidak pernah yakin betul ingin menjadi apa saya kelak. Bahkan saya pernah berada di titik jenuh, titik di mana saya merasa gagal, resah, dan tak bisa menjadi apa-apa. Di saat teman-teman saya sudah melangkah jauh dengan impian mereka saya hanya bisa menjadi penonton. Ditambah lagi dengan kegagalan yang berulang membuat semangat saya tumbang. Saya lelah mencoba tapi saya menolak menyerah. Saya menyadari betul banyak sekali kekurangan dalam diri saya, tapi sangat tidak tahu diri untuk bercita-cita terlalu tinggi. Tapi tak ada yang tak mungkin jika sudah Allah SWT. yang berkehendak.
            
Awalnya mengikuti seleksi CPNS 2018 ini, saya tidak terlalu berharap bisa lulus seleksi apalagi melihat banyaknya pendaftar rasanya kesempatan itu cuma 0,0001 %. Tapi, di dalam lubuk hati saya, selalu berbisik “waah kalau lulus kayaknya keren juga yah” dan kadang-kadang terbersit dalam lamunan saya, yang melihat diri saya menjadi seorang PNS tapi selalu saya tepis bayangan itu agar tak terlalu kecewa jika tak sesuai realita.
            
Saya menyelesaikan pendaftaran online dan mengirimkan berkas pada hari terakhir, saking tidak antusiasnya dengan seleksi CPNS ini. Bahkan mendekati waktu tespun saya masih ogah-ogahan mempelajari soal-soal TKD (Tes Kompetensi Dasar) yang banyak bertebaran. Lalu harapan yang tak seberapa itu pun kian terkikis ketika nilai saya tidak mencapai passinggrade. Nyatanya kesempatan itu kembali datang saat saya dinyatakan berhak mengikuti Tes Kompetensi Bidang (TKB) karena menduduki peringkat ke dua di tes sebelumnya. Asa itu mulai muncul, apalagi melihat orang tua yang begitu gembira dengan kabar tersebut. Berkat doa dan dukungan mereka pula saya melalui tes TKB dengan sangat baik dan bisa menjadi salah satu dari 167 orang yang dinyatakan lulus menjadi CPNSD Kota Kendari.
            
Kemarin, orientasi baru saja usai. Setelah melalui proses yang saaangat panjang. Dimulai sejak dinyatakan lulus, lalu pemberkasan, dan penantian pertek NIP yang membuat detak jantung berdetak tidak normal setiap harinya.

Semua proses ini tidak dilalui dengan sendiri. Dari proses inilah saya berkenalan dan bertemu dengan teman-teman dan orang-orang baru. Karena bersama membuat semua yang kita lalui menjadi mudah. Ditambah dengan adanya grup WA (Whatsapp) membuat keakraban di antara kami semakin erat terjalin meski baru saling mengenal kemarin. Walau ada banyak drama juga yang tercipta dan apa saja bisa menjadi perdebatan. Seperti luas mana kelurahan atau kecamatan misalnya, menjadi perdebatan yang tak ada ujungnya saat pengisian DRH (Daftar Riwayat Hidup) tempo hari. Atau simpang siurnya info mengenai 9 jeti (baca juta) menjadi drama yang tak kalah serunya dari sinetron yang menjadi viral beberapa hari sebelum orientasi dimulai. Grup-grup WA juga menjadi salah satu mood boster saya karena percakapannya yang sangat menghibur meski kadang membuat HP eror karena ratusan chat yang masuk.

Berasal dari latar belakang, disiplin ilmu, asal daerah, usia, dan karakter yang berbeda membuat diskusi selalu seru. Di sini saya belajar untuk menerima perbedaan dan tidak memaksakan pendapat. Sebab kita semua punya tujuan yang sama yaitu mengabdi pada bangsa dan Negara terkhusus untuk daerah kota Kendari. Keterbukaan teman-teman dan kakak-kakak membuat saya tidak canggung berinteraksi dengan mereka. Bahkan menbuat saya sangat jauh keluar dari diri saya biasanya yang pemalu, tertutup dan tidak mudah bergaul dengan orang baru.

Selain itu pembentukan kelompok juga sangat berperan penting dalam melewati proses ini. Kelompokku ada dua yang pertama kelompok 7, kelompok yang dibentuk saat awal pemberkasan dan yang kedua kelompok 5 kelompok yang dibentuk saat mengikuti orientasi. Untuk kelompok 7, sejak awal terbentuk kita sudah kompak, selalu menyempatkan foto dan makan bersama beberapa kali. Bahkan setelah dipencar ke dalam kelompok-kelompok baru pun tidak membuat kami melupa. Mungkin ini berkat ketua kelompok juga yang yang terbaik mengakomodir anggotanya. Di kelompok lima, kami terdiri dari berbagai formasi. Ada ibu-ibu dari pelamar X tenaga honorer K2 yang suka heboh dan doyan foto, ada dokter, guru, dll. Yang pasti kelompok kitalah yang paling kalem.
            
Orientasi dimulai pada hari senin, 25 Maret 2019.  Kami berseragam hitam putih, lengkap dengan papan nama dan pin korpri. Dalam orientasi ini kami mengikuti banyak kegiatan ada pemberian materi di ruangan yakni pengenalan tentang aturan-aturan yang berlaku bagi PNS, bagaimana kita harus bersikap, seperti apa pengawasan yang melekat, ataupun tentang pengembangan diri dimana menjadi PNS bukan berarti membatasi gerak kita untuk berkembang.
            
Ada juga kegiatan di luar ruangan yakni latihan PBB (Peraturan Baris Berbaris) yang mengingatkan saya pada saat SMP dulu pernah mengikuti gerak jalan, tapi masih juga salah-salah saat pelatihan kemarin. Pada hari kamis atau hari keempat pelaksaan orientasi ada giat penanaman pohon di jalan Madusila, yang tak sesuai realita karena kelompok kami tidak mendapatkan pohon, akhirnya cuma memasang pagar pelindung. Usai penanaman pohon, kami makan-makan bersama di pinggir lapangan dan juga outbond di taman kota, yang mana kelompok kami kalah semangat dan kompak dengan kelompok lain karena terlalu kalem.
            
Yang paling mendebarkan adalah ketika saya ditunjuk dan ditugaskan untuk menjadi perwakilan kelompok sebagai penerima SK 80% dan akan berhadapan langsung dengan pak Walikota. Apalagi saat latihan dan gladi saya masih saja salah dan gagal fokus. Di sisi lain ingin memberikan penampilan terbaik, karena ini adalah pengalaman yang mungkin hanya akan ada sekali seumur hidup.
            
Hari pentupan orientasi tiba, saya terbangun pukul tiga pagi dan tak bisa terlelap lagi. Berbagai prasangka meresahkan fikiranku. Cemas, takut salah, tegang, gugup, campur aduk menjadi satu. Saat hari masih berkabut, matahari belum muncul sempurna saya sudah menunggangi beblue (motor butut kesayangan) membelah jalanan kota lulo yang sudah mulai ramai dengan anak sekolah yang berbondong-bondong menuju sekolah. Jadi ingat, dulu waktu sekolah saya selalu berangkat pagi sekali dan kadang jadi orang pertama yang tiba di sekolah meski rumah saya paling jauh. Tak terasa saya sampai di pelataran parkir kantor Walikota Kendari. Sudah ada beberapa teman yang tiba. Semakin tinggi matahari bersinar sayapun semakin deg-degan.

Usai mengikuti apel pagi kami foto-foto bersama teman sekelompok lalu memasuki aula dan bersiap untuk acara penutupan orientasi. Semakin gugup dan rasanya ingin cepat-cepat selesai saja acara ini. Apalagi ketika kami sudah berada di depan dan saat gladi terakhir saya masih melakukan kesalahan.

Acara penutupan orientasi pun dimulai, setelah sambutan panitia dan Walikota, tibalah saatnya penanggalan tanda peserta orientasi dan penerimaan SK. Saya berusaha fokus meski kelihatan sekali tegangnya di wajah saya. Bukan hanya saya, tapi kami berlima yang menjadi perwakilan kelompok merasakan ketegangan yang sama. Sulit sekali harus melukiskan perasaanku saat berhadapan langsung dengan pak Walikota dan menerima SK dari beliau. Tegang campur haru, bahagia, bangga, pengen nangis tapi juga pengen teriak kencang dan lompat-lompat kegirangan. Tapi, keadaannya tidak memungkinkan dan masih harus tetap fokus. Setelah foto bersama kami pun kembali ke tempat duduk, barulah saya bisa bernafas lega.  
Sungguh menjadi PNS saja, sama sekali tak pernah terbayangkan olehku. Berada di antara 167 orang ini saja sudah sangat membanggakan dan membahagiakan bagi saya, apalagi menjadi perwakilan kelompok yang sebenarnya teman-teman lain jauh lebih baik dari pada saya yang tak ada apa-apanya ini.

Masa orientasi yang sangat berkesan dan menyenangkan. Teman-teman baik yang tidak sombong dan sangat ramah, panitia yang bekerja dengan sangat baik melayani kami dari awal dan sangat fleksibel sama sekali tidak menyusahkan kami. Semuanya memberikan kenangan yang tak  akan terlupakan.

Terimakasih untuk kesempatan luar biasa ini. Terimakasih Allah nikmat-Mu sungguh tiada terkira. Terimakasih mama, bapak, kakak, saudara, sahabat, teman, dan semuanya yang selalu mendukung dan memberikan saya kekuatan untuk tidak pantang menyerah. Terimakasih Panitia dan teman-teman CPNSD Kota Kendari 2018, semoga persaudaraan kita tetap terjalin dan buat semuanya sukses selalu di tempat pengabdian masing-masing.

Dan pada akhirnya, sebuah pertemuan akan menyisahkan perpisahan. Tapi, kita bisa memilih melupakan atau menyambung silaturahmi. Kalau aku pasti memilih yang kedua. Masa orientasi ini pasti akan kita rindukan. Tapi, jangan rindu kawan sebab kita tak kemana-mana. Kita di sini dalam naungan Pemerintah Kota Kendari.

Sekian….

-Wulan

30-31 Maret 2019 00:45

Sunday, 11 November 2018

Tentang November


Di bulan yang sama, tiga tahun lalu, tepatnya November 2015 aku pernah berada dalam titik terendah kehidupanku. Dihadapkan pada persoalan yang begitu pelik sampai rasanya tak mampu menghadapi dunia ketika membuka mata di pagi hari.

Masa-masa itu adalah saat terberat yang pernah aku jalani. Di tengah akhir semester, masa-masa ujian dengan tugas yang menumpuk yang menguras otak dan tenaga untuk menyelesaikannya. Aku bertemu kenyataan di mana aku dipaksa harus memilih antara seseorang yang selama ini kuperjuangkan dengan orang-orang yang selama ini berjuang untuk kehidupanku. Lalu kisah yang telah dirajut dengan asa untuk bersama itu pun kandas tanpa kata tanpa penyelesaian. Karena dia yang juga tak peduli. Sampai saat ini pun aku masih bingung dengan kata dan kalimat apa aku bisa mendeskripsikan saat-saat itu.

Bukan hal yang mudah untuk melewati tiga tahun ini, dan ternyata aku mampu melewati segalanya dengan baik. Meski sempat terpuruk, tak ada gairah menjalani hidup, sampai tak mampu untuk bercerita kepada siapapun. Semua luka, sakit hati, kesedihan, penyesalan dan air mata aku pendam sendiri. Bahkan di tengah keramaian dan saat tertawapun, aku sebenarnya menangis.

Kemudian aku belajar untuk menjadi kuat, berdiri di atas luka dan berusaha untuk membuktikan bahwa aku mampu melewati fase itu dan menjadi pribadi yang lebih baik. Karena keyakinanku, Allah tak akan memberikan ujian di luar batas kemampuanku. Awalnya memang berat, sangat, tapi tak ada yang tak mungkin jika kita terus berusaha untuk melupakan dan menerima dengan ikhlas apa yang telah digariskan-Nya.

Kini aku telah berdamai dengan masa lalu. Seiring waktu, aku belajar banyak hal yang mengkin menjadi pemicu mengapa ujian yang berat itu datang sebab kesalahanku sendiri. Yang pasti, aku tak ingin mengulang kesalahan yang sama. Karena itu, untuk saat ini aku lebih memilih sendiri. Kesendirian ini membuatku menjadi lebih mandiri tanpa tergantung dengan orang lain, tanpa mengharapkan apapun dari orang lain.

Meski sepi kadang menyelimuti rasa. Walau iri kadang terselip di hati melihat mereka yang telah berdua. Tapi aku tak ingin terlarut. Hidup bukan hanya tentang persoalan rasa dan hubungan antara pria dan wanita. Hidup jauh lebih berarti dari sekadar urusan cinta. Meraih impian dan menjadi orang yang berguna buat orang lain jauh lebih utama untuk dikejar.

Bukan tak ingin untuk jatuh cinta lagi, hanya saja, kau tahu, orang yang hatinya pernah patah tak akan mudah untuk kembali membuka hati. Karena untuk sampai di titik ini saja butuh perjuangan yang luar biasa. 


-WS

Saturday, 20 October 2018

Hari Pertama


“Waktunya tidur, istirahat. Besok, kita akan memulai petualangan baru. Bismillah….”

Itulah kata-kata yang saya tulis di memo HP sebelum terlelap malam itu. Keesokan paginya saat hari masih gelap, alrm yang sudah  saya atur untuk berbunyi tiap 5 menit (kalau tidak begini dijamin gak akan bisa bangun pagi wkwkwk) berdering-dering membangunkan saya yang masih mager (malas gerak). Tapi, mengingat hari ini adalah hari pertama saya mulai bekerja, sayapun segera bangun, melaksanakan shalat subuh dan lalu bersiap-siap ke kantor.

Saat pagi menyapa, mendung menyelimuti langit. Hari tampak muram, tapi tidak dengan diriku yang pagi itu mempunyai semangat baru untuk memulai hari-hari baru, memulai kehidupan dalam dunia kerja. Dengan menunggangi si beblue (baby blue julukan untuk motor butut kesayanganku yang terinspirasi dari webtoon spirit fingers) saya menuju ke kantor yang mulai hari ini akan menjadi rumah kedua untukku. Karena di tempat inilah setengah hariku akan saya lewati. Aahh… orang-orang seperti apakah yang akan saya temui nanti? Pertanyaan itu mengusik fikiranku sepanjang jalan.

Pukul 07. 30 WITA saya sudah tiba. Saya memarkirkan si beblue lalu melangkah memasuki gedung kantor yang berlantai tiga itu. Masih sepi. Cuma ada security dan cleaning service yang tengah membersihkan ruangan front office, entah kalau di bagian dalam kantor. Saya duduk di kursi tunggu dengan perasaan campur aduk. Gugup, canggung, merasa asing sekaligus antusias.

Selang beberapa saat, datanglah ibu Fatma sosok yang ramah dan murah senyum, itulah kesan pertama yang saya tangkap saat pertama kali bertemu dengannya ketika interview kemarin, kelak saya tahu beliau tipe yang sangat kocak, lucu dan humoris. Sayapun diajak ke ruangan yang akan menjadi tempatku bekerja bersama dengan beberapa karyawan lain.

Lalu satu persatu karyawan lain datang dan saya diperkenalkan dengan mereka. Berbagai tanggapan mewarnai kehadiranku di kantor hari itu, menjadi bahan candaan dengan pertanyaan-pertanyaan konyol yang saya tahu hanya untuk lebih mengenalku saja, karena mungkin saya tampak sangat pendiam. Perasaan canggung benar-benar menguasai diriku. Saya hanya sesekali tersenyum dan bicara saat ditanya.

Saya memang bukan tipe orang yang friendly dan mudah berbaur dengan orang yang baru saya temui. Tapi, saya akan pelan-pelan menyesuaikan diri setelah saya cukup mengenal karakter orang-orang di lingkungan baru saya tersebut.

Di luar, hujan gerimis membasahi kota siang hari itu. Saya mulai diajari hal-hal yang harus saya kerjakan. Tak banyak dan cuma hal-hal yang sederhana. Hari itupun berlalu dengan canggung yang masih tersisa hingga beberapa hari berikutnya.

Hari itu, sudah lewat beberapa pekan lalu. Kini saya sudah bisa beradaptasi dengan baik di lingkungan kerjaku. Pun tanpa masalah berarti dan semoga sampai seterusnya begitu, karena kehidupan tak akan mungkin terus berjalan dengan mulus. Hari-hari esok masih penuh dengan tanda tanya. Tapi mengambil banyak pelajaran dan menjadikannya sebagai pengalaman berharga adalah sesuatu yang pasti. Saya memilih untuk menikmatinya dan memberikan yang terbaik dalam hal apapun yang saya kerjakan.




~WS

10-20 Oktober 2018

Tuesday, 2 October 2018

Kabar Baiknyaa…


Sudah dari beberapa hari yang lalu saya berniat untuk mulai menulis lagi di blog ini, tapi selalu tidak bisa menyempatkan diri. Yaah saya sangat tidak konsisten, karena beberapa bulan belakangan saya kehilangan motivasi dan bahan untuk mengisi blog ini. Tapi, saya akan usahakan untuk rutin menulis lagi. Karena tanpa menulis rasanya seperti ada yang hilang dari keseharian saya.

Kali ini saya ingin memberi kabar baik. Setelah belasan hingga puluhan lamaran yang saya kirimkan ke berbagai perusahaan dan kantor yang ada di kota ini, dengan rekomendasi seorang teman yang sangat baik akhirnya saya pun bisa mulai mengenal dunia kerja.

Sudah putus asa, sempat ingin berhenti berusaha, harapan mungkin tinggal seujung kuku. Bahkan saya sudah menyusun rencana-rencana lain setelah menemui kegagalan berkali-kali. Tapi dalam hati kecil selalu ada doa dan harapan yang tidak pernah putus meski tak saya ucapkan lewat lisan, untuk mendapatkan pekerjaan yang meskipun tidak menjadi “apa-apa” dengan gaji yang meski tidak seberapa. Setidaknya cukup sebagai tempat untuk saya mendapat pengalaman dan pelajaran berharga dalam dunia kerja.

Allah ternyata menjawab doa yang saya panjatkan dalam diam itu. Harapan sederhana yang tidak menggebu-gebu. Keinginan yang saya pendam sendiri. Meski bukan itu hal yang selalu saya usahakan tapi saya selalu merasa membutuhkannya. Dan Allah benar-benar memberikan apa yang saya butuhkan saat ini.

Kita mungkin punya keinginan yang sangat banyak, tapi hati kecil kita sebenarnya tahu apa yang paling kita butuhkan. Dan Allah hanya memberikan apa yang terbaik yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Semoga pekerjaan ini menjadi langkah awal pembuka rezeki dari impian dan rencana-rencana yang ingin saya usahakan untuk dapat terwujud. Bismillah…. Perjalanan kita masih sangat panjang ini barulah awal.

#wstory


Tuesday, 22 May 2018

Seseorang Yang Kutemui

Hari ini saya bertemu seseorang. Awalnya, saya tidak sengaja bersitatap dengan orang itu saat dia sedang lewat di hadapanku yang sedang galau karena dagangan yang tak kunjung berkurang. Dalam hati saya merasa pernah melihatnya entah di mana.

Di waktu yang sepersekian detik itu saya sedikit terpana tapi kemudian saya cepat-cepat mengalihkan pandangan saya ke arah lain. Karena sepertinya dia pun juga sedang memperhatikan saya lekat-lekat. (Tidak bermaksud ke GR-an yah tapi faktanya memang begitu).

Setelah dia berlalu, saya pun tidak terlalu memikirkannya. Meski sempat terbersit dalam benak saya kalau orang itu terasa familiar.

Tapi kemudian, dia kembali menghampiri saya. Lalu menanyakan tentang diri saya. Katanya dia adalah temannya temanku. Kami berbincang sejenak kupikir cuma sekadar basa basi biasa. Setelah itu dia berlalu dan sayapun hanya menganggap hal itu seperti angin lewat belaka.

Hingga di saat saya hendak tidur saya kepikiran mengenai kejadian itu. Rasa penasaran saya muncul. Mengapa orang ini bisa mengenali saya? Saya pun membuka akun facebook dan mencari nama akun teman yang dimaksud orang itu tadi. Setelah menelusuri  akun teman saya, saya pun menemukan akun orang itu yang ternyata juga berteman dengan saya di facebook.

Pantas saja saya berasa familiar. Orang saya sering ngeliat orang ini di facebook. Cuma yang saya tidak sangka dia mau meyapa saya lebih dulu. 

Bukan hal yang waao banget sih, hanya saja saya tidak pernah berpikir akan bertemu secara langsung dengan orang itu ditambah momentnya yang akward banget lagi. Hahaha

Kita tidak pernah tahu besok atau lusa akan bertemu dengan siapa dan di mana. Tapi pasti ada suatu cerita yang tertinggal dalam memori meskipun itu hanya hal yang biasa. Bagiku, bukan hanya sesuatu yang spesial saja yang mesti diingat. Hal yang biasapun perlu diingat jika hal itu memang membekas dalam ingatan.

Monday, 7 May 2018

My day

Hari ini ulang tahunku. 7 mey 2018. Sekarang umurku genap 22 tahun. Aku senang, seharian tadi hujan turun. Sehingga aku bisa tidur siang dengan nyenyak.


Tadi aku buat kue, rencananya untuk menghadiahi diri sendiri. Tapi kuenya belum kumakan. Karena bentuknya masih berantakan dan belum dihias.


Alhamdulillah, usia bertambah meski jatah waktu kehidupan berkurang. Terimakasih Allah, atas segala nikmat yang engkau berikan kepadaku hingga detik ini. Nikmat sehat dan udara yang masih bisa aku hirup sesungguhnya adalah kenikmatan yang luar biasa.


Aku tak perlu kado atau hadiah. Cukup kirimkan doa terbaik untukku. Atau kalau tidak bantu aminkan segala doa dan harapanku saja.


Untuk diriku, ayo berjuang meraih mimpi dan apa yang kita cita-citakan. Meski lelah karena kegagalan tapi jangan menyerah dan terus berusaha. Yakin suatu hari ada cahaya terang yang akan menyambut di ujung jalan.


Juga pertemuan denganmu, yang tak pernah bosan kutunggu. Cepatlah datang dan mari merayakan setiap hari bersama-sama.

~WS